Ironi, Hotspot Baru Karhutla dan Minimnya Air

  • 31 Agt 2026 07:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hotspot dan titik api karhutla masih meningkat di beberapa provinsi
  • Kalimantan Barat mencatat tambahan 1.629 hotspot menjadi 3.371 titik
  • Kalimantan Tengah memiliki 4.515 hotspot dan 79 titik api baru
  • Hotspot di Sumatra Selatan turun dari 298 menjadi 63 titik
  • Riau mencatat penurunan hotspot dari sembilan menjadi nol titik

KEBAKARAN hutan dan lahan (Karhutla), kembali menghadirkan ujian berat bagi kita semua. Di tengah upaya pemadaman yang semakin digencarkan, titik panas dan titik api justru masih bermunculan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), mengidentifikasi lonjakan hotspot di sejumlah daerah. Kondisi ini membuktikan, ancaman karhutla belum sepenuhnya terkendali, meski di beberapa provinsi mulai menunjukkan tren penurunan.

Di Kalimantan Barat misalnya, jumlah hotspot melonjak hingga 3.371 titik, setelah bertambah 1.629 titik disertai tambahan 23 titik api baru. Kondisi serupa terjadi di Kalimantan Tengah.

Hotspot bertambah menjadi 4.515 titik, sementara titik api baru meningkat menjadi 79 titik. Adapun di Kalimantan Selatan, penambahan hotspot mencapai 457.

Membuat totalnya mencapai 1.356 titik, dengan tambahan 47 titik api baru. Angka-angka masif tersebut menegaskan satu hal penting.

Karhutla bukan lagi sekadar memadamkan api yang terlihat, melainkan memastikan ketersediaan sumber daya terutama air, saat darurat melanda. BNPB dengan tegas menyebutkan, penanganan di lapangan masih mengalami sejumlah kendala.

Yaitu kencangnya tiupan angin, serta minimnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Di sinilah letak ironi terbesar kita.

Ketika ribuan hotspot mengancam, petugas di lapangan justru harus berjibaku mencari air, demi menjinakkan amukan si jago merah. Kendati demikian, secercah kabar baik datang dari pulau Sumatra.

Wilayah Sumatra Selatan mencatat penurunan signifikan, dari 298 menjadi 63 titik panas. Riau bahkan sukses menekan angka hotspot, dari sembilan menjadi nol.

Sementara Jambi tersisa satu titik dari sebelumnya 15 titik. Penurunan di wilayah Sumatra patut kita apresiasi, namun keberhasilan ini tidak boleh melenyapkan kewaspadaan kita.

Penanganan karhutla menyangkut tata kelola lahan, perlindungan ekosistem gambut, ketersediaan infrastruktur air, hingga mitigasi dini cuaca kering ekstrem. Kita tidak boleh lagi berpola pikir reaktif, yakni menunggu api membesar, baru sibuk mencari air dan mengerahkan sumber daya.

Pencegahan mutlak harus diperketat sejak dini, mengingat kerugian ekologis, kesehatan, dan ekonomi jauh lebih mahal harganya, daripada pencegahan itu sendiri.

(Naskah juga disusun oleh Yuliana Marta Doky, Kepala Pusat Pemberitaan RRI)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....