Indonesia Dorong ASEAN-Rusia Hadirkan Solusi bagi Kawasan

  • 01 Agt 2026 07:33 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ketidakpastian global mencakup konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, perubahan iklim, dan ancaman krisis kesehatan yang menjadi tantangan bagi hampir semua negara.
  • Stabilitas sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi atau militer, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam menghadapi berbagai guncangan.
  • Kerja sama antarnegara harus menghasilkan manfaat nyata bagi rakyat, bukan sekadar mempererat hubungan diplomatik semata.

KETIDAKPASTIAN global masih menjadi tantangan yang dihadapi hampir semua negara. Konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, perubahan iklim hingga ancaman krisis kesehatan menunjukkan bahwa stabilitas sebuah negara tidak ditentukan hanya oleh kekuatan ekonomi atau militer.

Tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menghadapi berbagai guncangan. Dalam situasi seperti itu kerja sama antarnegara menjadi semakin penting, namun haruslah menghasilkan manfaat nyata, bukan sekadar mempererat hubungan diplomatik.

Inilah pesan yang dibawa Indonesia melalui Menteri Luar Negeri Sugiono dalam ASEAN-Russia Post Ministerial Conference. Indonesia juga menegaskan pentingnya memperkuat "community resilience" atau ketahanan masyarakat sebagai fondasi menghadapi berbagai tantangan global.

Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma diplomasi dari yang sebelumnya berorientasi pada hubungan politik menjadi kerja sama yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat.

Karena itu, Indonesia mendorong agar kemitraan ASEAN-Rusia difokuskan pada sektor-sektor strategis. Di bidang energi implementasi "ASEAN-Russia Energy Cooperation Work Plan 2026–2030" diharapkan mampu memperkuat ketahanan energi kawasan sekaligus mempercepat transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Pada sektor pangan, Rusia memiliki posisi penting sebagai salah satu pemasok gandum dan pupuk dunia. Bagi Indonesia dan negara-negara ASEAN kerja sama tersebut dapat mendukung stabilitas pasokan bahan baku pertanian.

Lebih dari itu modernisasi sektor pertanian melalui pemanfaatan teknologi menjadi langkah penting agar produksi pangan mampu beradaptasi dengan perubahan iklim. Di bidang kesehatan, Indonesia mengusulkan penguatan kapasitas tenaga medis, pertukaran pengetahuan dan peningkatan kesiapsiagaan menghadapi potensi pandemi di masa depan.

Pengalaman COVID-19 menjadi pelajaranl bahwa ketahanan kesehatan tidak bisa dibangun sendiri, melainkan membutuhkan kerja sama lintas negara. Bagi Indonesia diplomasi tidak boleh berhenti pada penandatanganan kesepakatan.

Keberhasilan kerja sama internasional harus diukur dari sejauh mana mampu memperkuat ketahanan energi, menjaga ketersediaan pangan, meningkatkan kualitas layanan kesehatan serta membuka peluang investasi dan transfer teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat. Tantangan global tidak akan berkurang dalam waktu dekat.

Justru karena itulah Indonesia perlu terus mendorong diplomasi yang produktif dan berorientasi pada hasil. Kerja sama ASEAN-Rusia harus menjadi instrumen untuk memperkuat ketahanan nasional, bukan sekadar simbol hubungan antarnegara.

Sebab ukuran keberhasilan diplomasi pada akhirnya bukan hanya terciptanya kesepakatan. Tetapi hadirnya manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia dan kawasan.

(Penulis: Tomo Hakim)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....