Melambungnya Harga Bawang Putih
- 14 Jul 2026 07:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Harga bawang putih rata-rata nasional mencapai Rp42.611 per kilogram, melampaui harga acuan Rp38 ribu dan melonjak di 269 kabupaten kota (75 persen wilayah Indonesia).
- Impor bawang putih mencapai 229 ribu ton pada semester pertama 2024 dengan kenaikan 28 persen, namun 98 persen bergantung pada Tiongkok sehingga rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah.
- Strategi jangka panjang yang diperlukan meliputi diversifikasi negara pemasok, percepatan produksi dalam negeri, perbaikan efisiensi distribusi dan sistem logistik untuk mengurangi ketergantungan impor.
HARGA bawang putih kembali menguras kantong masyarakat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan hingga pekan kedua Juli ini harga komoditas bumbu dapur tersebut melonjak di 269 kabupaten dan kota.
Angka ini mencakup hampir 75 persen wilayah Indonesia. Secara nasional rata-rata harga bawang putih menyentuh Rp42.611 per kilogram.
Angka ini sudah melampaui harga acuan konsumen yang dipatok Rp38 ribu per kilogram.
Ironisnya di sejumlah daerah lonjakannya jauh lebih tajam.
Di wilayah Papua Pegunungan harga menembus Rp100 ribu per kilogram. Sementara di Aceh Selatan, Gorontalo Utara hingga Kabupaten Deiyai Papua Tengah, harga stabil di kisaran Rp50 ribu hingga Rp79 ribu per kilogram.
Kondisi ini mencuatkan tanda tanya besar. Jika pasokan dianggap terbatas mengapa data impor justru menunjukkan surplus?
Sepanjang semester pertama tahun ini impor bawang putih mencapai 229 ribu ton lebih. Artinya ada kenaikan volume impor sebesar 28 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun kita terlalu bergantung pada satu pintu. Lebih dari 98 persen impor bawang putih kita berasal dari Tiongkok.
Ketergantungan inilah yang membuat kita sangat rentan. Pelemahan nilai tukar rupiah, langsung memukul biaya impor.
Ditambah lagi dengan mahalnya biaya logistik internasional yang membuat harga di tingkat konsumen kian tak terkendali.
Kementerian Perdagangan sendiri mengakui penguatan dolar menjadi faktor utama. Namun apakah kita akan terus membiarkan fluktuasi global mendikte harga pangan di pasar lokal?
Situasi ini adalah pengingat keras. Stabilitas pangan tidak cukup hanya dengan mendatangkan barang dari luar.
Penguatan nilai tukar efisiensi distribusi dan perbaikan sistem logistik adalah pekerjaan rumah yang mendesak. Kita butuh langkah konkret.
Koordinasi antar-instansi harus lebih dari sekadar rapat. Diversifikasi negara pemasok serta percepatan produksi bawang putih dalam negeri, bukan lagi sekadar wacana melainkan kebutuhan strategis.
Hanya dengan kemandirian yang terencana, ketergantungan impor bisa ditekan. Agar di masa depan, masyarakat tidak lagi menjadi korban dari gejolak harga yang seharusnya bisa dimitigasi sejak awal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....