Indonesia mulai Mengelola Sampah jadi Listrik
- 09 Jul 2026 07:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BPI Danantara Indonesia secara resmi memulai pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Denpasar Raya, Bali yang ditandai dengan penandatanganan Power Purchase Agreement pada 8 Juli 2026.
- Proyek PSEL dengan investasi Rp3 triliun memiliki kapasitas pengolahan 1.500 ton sampah per hari dan mampu memasok listrik bagi 100 ribu rumah tangga sekaligus menciptakan 1.200 lapangan kerja hijau.
- PSEL Bali ditargetkan beroperasi pada semester pertama tahun 2028 dan diproyeksikan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca dari TPA hingga 80 persen serta mereduksi emisi karbon hingga 640 ribu ton CO2 per tahun.
LANGKAH monumental untuk mewujudkan pengelolaan sampah yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan resmi dimulai. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia, secara resmi memulai pembangunan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau PSEL di Denpasar Raya, Bali.
Proyek ini ditandai dengan penandatanganan Power Purchase Agreement (PPA) pada Rabu, 8 Juli 2026. Pembangunan PSEL ini adalah respons strategis atas Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025.
Regulasi ini menjadi landasan kuat bagi daerah untuk menangani sampah perkotaan melalui teknologi ramah lingkungan. Bagi Bali, kehadiran PSEL bukan sekadar solusi teknis, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga citra sebagai destinasi pariwisata dunia yang bersih dan berkelanjutan.
Secara ekonomi dan energi, proyek dengan nilai investasi mencapai Rp3 triliun ini sangat menjanjikan. Dengan kapasitas pengolahan 1.500 ton sampah per hari, fasilitas ini diproyeksikan mampu memasok listrik bagi 100 ribu rumah tangga.
Tidak hanya itu, proyek ini menjadi motor penggerak ekonomi baru dengan menciptakan 1.200 lapangan kerja hijau. Namun, kita harus memastikan PSEL Bali lebih dari sekadar mesin pengolah sampah.
Proyek yang mengintegrasikan filosofi Tri Hita Karana dalam desain arsitekturnya ini, harus mampu menjadi pusat edukasi bagi masyarakat dan dunia akademik. Target operasional pada semester pertama tahun 2028 nanti, menuntut komitmen tinggi dalam menjaga standar lingkungan.
Kita menaruh harapan besar agar PSEL Bali mampu menekan emisi gas rumah kaca dari Tempat Pemrosesan Akhir hingga 80 persen, serta mereduksi emisi karbon hingga 640 ribu ton CO2 per tahun. Keberhasilan proyek ini adalah tolok ukur bagi daerah lain di Indonesia.
PSEL harus mampu menjawab persoalan sampah secara efektif, sekaligus memperkuat daya saing daerah melalui energi baru terbarukan. Pada akhirnya, keberlanjutan sektor pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi Bali sangat bergantung pada seberapa efektif lingkungan dikelola hari ini.
Pembangunan PSEL harus menjadi jawaban nyata atas tantangan sampah. Demi menjaga kelestarian alam dan kualitas hidup masyarakat Pulau Dewata.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....