Nataru di Tengah Potensi Cuaca Ekstrem

  • 26 Des 2025 07:06 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

LIBUR Natal dan Tahun Baru selalu identik dengan euforia perjalanan, dan pertemuan keluarga. Namun di balik itu, ada persoalan serius yang tak boleh diabaikan, yaitu potensi cuaca ekstrem, terhadap jutaan orang yang bepergian di jalur darat, laut, dan udara.

Pemerintah ternyata tidak tinggal diam. Mitigasi dampak cuaca ekstrem menjadi fokus utama, dalam pengamanan masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Menurut Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, kekuatan lintas sektoral telah dikonsolidasikan, agar langkah antisipasi berjalan optimal jika kondisi cuaca memburuk.

Peringatan itu bukan tanpa dasar, karena Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), memprediksi potensi cuaca ekstrem akan melanda sejumlah wilayah Indonesia, selama periode Nataru. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan, institusinya membagi dinamika cuaca dalam tiga fase.

Pertama yakni 15–22 Desember ketika hujan lebat berpotensi mendominasi. Kedua, 22 hingga 29 Desember dengan hujan yang cenderung menurun. Dan, fase ketiga pada 29 Desember hingga 10 Januari 2026, ketika curah hujan kembali meningkat.

Wilayah dengan curah hujan tinggi hingga sangat tinggi, diperkirakan meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi Selatan, Papua Selatan, dan Kalimantan. Di laut, ancaman tak kalah serius. Gelombang hingga 4 meter berpotensi terjadi di beberapa perairan, termasuk Selat Sunda dan Selat Bali, bahkan di Natuna, bisa melebihi 6 meter pada Januari 2026, yang dipicu bibit siklon tropis 93S.

BMKG juga mengingatkan potensi banjir rob di pesisir Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku, termasuk wilayah yang sudah terdampak seperti Pontianak. Sementara bagi transportasi udara, awan Cumulonimbus berisiko memicu hujan intensif dan gangguan penerbangan.

Meski pemerintah telah mengoperasikan Posko Pusat Angkutan Nataru, yang beroperasi mulai 18 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026, yang melibatkan berbagai instansi lintas sektor sebagai pusat koordinasi nasional, untuk memantau pergerakan dan merespons potensi gangguan, sikap pemerintah sangat jelas. Konsisten siaga, dan masyarakat harus disiplin mengikuti informasi resmi.

Tidak ada salahnya menunda perjalanan jika cuaca memburuk, patuhi imbauan otoritas, dan utamakan keselamatan dibanding mengejar jadwal. Karena sejatinya, libur Nataru bukan soal seberapa jauh kita bepergian, tetapi seberapa selamat kita kembali pulang.

Penulis: Syariful Alam

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....