Fase Pertama Gencatan Senjata Israel dan Hamas
- 11 Okt 2025 07:36 WIB
- Pusat Pemberitaan
SETELAH berbulan-bulan konflik yang menyebabkan ribuan korban jiwa dan menghancurkan berbagai infrastruktur di Gaza, kini muncul secercah harapan. Israel dan Hamas akhirnya menyetujui fase pertama gencatan senjata, yang diumumkan secara resmi oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Kesepakatan ini bukan muncul tiba-tiba. Ada peran aktif Mesir sebagai mediator, yang selama beberapa minggu terakhir menjembatani komunikasi antara kedua pihak, yang sebelumnya bersikeras dengan posisi masing-masing.
Dalam perjanjian itu, kedua pihak sepakat menghentikan serangan udara dan darat, membuka akses kemanusiaan bagi warga sipil, serta memfasilitasi penyaluran bantuan medis dan pangan.
Dunia internasional tentu menyambut baik kesepahaman tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa, Uni Eropa, hingga negara-negara Arab, bahkan memuji Mesir atas peran diplomatiknya. Indonesia pun menyerukan agar kesepakatan ini menjadi langkah awal, menuju perdamaian yang lebih luas dan berkelanjutan.
Namun banyak pihak mengingatkan, fase pertama gencatan senjata sering kali hanya menjadi jeda sementara, dan bukan akhir dari konflik. Pengalaman sebelumnya menunjukkan, bahwa gencatan seperti ini rentan gagal, bila tidak disertai kepercayaan, pengawasan bersama, dan komitmen politik yang kuat.
Kedua pihak saat ini juga masih memiliki kepentingan yang berseberangan, sehingga keberhasilan gencatan senjata, akan sangat bergantung pada kesediaan kedua pihak menahan diri, dan membangun komunikasi yang konstruktif.
Gencatan senjata bukan hanya berhenti menembak, karena menjadi awal dari proses panjang, membangun kembali rasa percaya dan kemanusiaan. Dunia internasional, termasuk Indonesia dapat berperan aktif, mendorong terciptanya dialog yang adil dan berimbang, agar fase pertama ini tidak berhenti di kertas perjanjian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....