Genduri Akbar, Wujud Syukur Kalurahan Budaya Giripeni

  • 01 Sep 2024 17:20 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Ribuan masyarakat Kalurahan Giripeni berkumpul di Lapangan Giripeni Sabtu (31/08/2024) guna mengikuti acara Genduri Akbar Launching Kalurahan Budaya Giripeni. Acara yang diinisasi oleh Pemerintah Kalurahan Giripeni dan pengurus Kalurahan Budaya Giripeni itu digelar sebagai rasa Syukur, perayaan sekaligus peluncuran Kalurahan Giripeni yang sudah ditetapkan sebagai Kalurahan Budaya.

Sebelum pelaksanaan Genduri Akbar, terlebih dahulu masyarakat melakukan kirab budaya dari Lapangan di Padukuhan Kalikepek, berjalan sejauh kurang lebih tiga kilometer menuju Lapangan Giripeni. Acara Genduri Akbar ini diselingi upacara seremonial dan diawali dengan pemanjatan doa atau dalam Bahasa Jawa disebut Umbul Donga. Doa-doa baik dipanjatkan oleh pemuka agama sebagai wujud rasa syukur dan juga harapan untuk Kalurahan Budaya Giripeni dan seluruh masyarakat.

Menariknya, setiap kontingen yang terbagi tiap RT diwajibkan membawa angsang. Angsang adalah wadah makanan tradisional yang terbuat dari blarak (daun kelapa) hijau yang dianyam dan disimpul bentuk segi empat. Didalamnya terdapat makanan beruba ingkung ayam, sega gurih (nasi gurih) dan pisang raja satu tangkep.

Makanan yang dibawa untuk genduri ini bermakna filosofis. Ayam ingkung adalah ayam utuh yang disajikan lengkap dengan jeroannya. Menurut Daryono, pengurus Kalurahan Budaya Giripeni seksi adat dan tradisi, ingkung ini juga merupakan simbol perjuangan. Sementara nasi gurih atau sega gurih bisa dimaknai sega rasa (menggunakan rasa). Apa yang kita lakukan itu harus menggunakan rasa agar semua hajat kitab bisa terwujud. Terakhir pisag tangkep bsia diambil maknanya dari Bahasa Jawanya pisang yakni gedhang, gemreget marang pepadhang. Pohon pisang itu hanya hidup satu kali dan bisa bermanfaat. Bagian-bagian pohonnya pun semua bisa dimanfaatkan oleh manusia seperti daun, bunga ataupun buah bahkan batangnya. Dipilihnya pisang raja bisa dimaknai bahwa setiap dari kita adalah raja atau pemimpin.

Lurah Giripeni, Iswanto Adi Saputro menyatakan, acara genduri akbar ini digelar sebagai wujud rasa syukur karena kalurahannya sudah menjdi Kalurahan Budaya dan juga untuk melestarikan budaya, adat, tradisi masyarakat.

“Genduri ini sebagai wujud rasa syukur kami dan tentunya untuk melestarikan budaya leluhur. Kami juga ingin memperkenalkan tradisi genduri ini kepada anak-anak agar mereka bisa melestarikan tradisi ini kedepannya,” ujar Adi.

Kedepannya ia berharap acara genduri akbar ini bisa dilaksanakan setiap tahun aagr masyarakat semakin rukun, hidup damai berdampingan dan bisa melestarikan nilai-nilai budaya serta tradisi yang berlaku di masyarakat khususnya di Kalurahan Giripeni. (acha/ros/atang)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....