Gelar Bangsawan Palembang: Persepsi di Tengah Tradisi
- 26 Agt 2024 08:52 WIB
- Palembang
KBRN, Palembang: Palembang, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan yang terdiri dari 17 kabupaten dan kota, terkenal tidak hanya dengan kekayaan seni dan budayanya, tetapi juga dengan sistem gelaran kebangsawanannya. Di Palembang, gelaran kebangsawanan memiliki peran penting dalam struktur sosial dan budaya lokal.
Saat ini, terdapat empat gelaran kebangsawanan yang diakui: Raden, Kemas, Mas Agus, dan Kiagus. Namun, persepsi mengenai gelaran-gelaran ini bervariasi dan sering menjadi bahan perdebatan.
"Gelaran kebangsawanan di Palembang memiliki sejarah yang menarik. Gelaran "Kemas" berasal dari abad ke-15 ketika Raja Palembang pertama, Ki Gede Ing Suro, datang dari Demak dengan 24 keluarga setelah terjadinya perang saudara di Jawa," ujar Budayawan Palembang, Vebri Al Lintani, dalam perbincangan bersama RRI Palembang, Sabtu (24/8/2024).
Ki Gede Ing Suro, yang konon merupakan keturunan Raden Kusen, adik dari Raden Fatah, mendirikan kerajaan Palembang di bawah perlindungan kerajaan Demak dan kemudian Mataram. Nama "Kimas" pada masa itu berubah menjadi "Kemas" akibat perbedaan logat lokal.
"Seiring dengan perubahan sejarah, Kemas Hindi kemudian memerdekakan diri dari pengaruh kerajaan Jawa dan mendirikan Kerajaan Palembang Darussalam. Kemas Hindi, yang menjadi Sultan dan menjalankan syariat Islam, mengubah gelar menjadi Sultan Abdurrahmankholifatul Mukminin Sahidul Imam. Setelah itu, keturunan Sultan diberikan gelar Raden, dan pada masa perkawinan dengan orang yang bukan keturunan kesultanan, anak-anak mereka mendapat gelar Mas Agus," beber Vebri.
Pada masa Sultan Mahmud Badaruddin I, gelaran-gelaran ini diteruskan. Gelaran "Mas Agus," "Raden," "Kemas," dan "Kiagus" telah ada sejak lama. Kiagus, yang bukan keturunan asli Palembang melainkan keturunan Arab yang menikahi putri Palembang, dimasukkan ke dalam silsilah Palembang setelah pernikahannya.
"Menurut urutan sejarah, gelaran-gelaran di Palembang dimulai dengan "Kemas" atau "Kimas," diikuti oleh "Kiagus," kemudian "Raden," dan terakhir "Mas Agus." Pada masa kolonial, Van Sevenhoven, seorang komisaris Belanda, mengelompokkan gelaran-gelaran tersebut dengan "Raden" dan "Mas Agus" sebagai bangsawan, sementara "Kemas" dan "Kiagus" dianggap sebagai golongan bawah atau rakyat jelata," jelasnya.
Vebri menegaskan bahwa meskipun Palembang memiliki gelaran kebangsawanan, masyarakatnya yang beragama Islam tidak menganut istilah kasta. Menurutnya, di mata Tuhan, gelar dan strata sosial tidak menentukan kemuliaan seseorang.
"Meskipun seseorang adalah rakyat jelata, jika dia banyak beramal dan dekat pada Allah, maka dia dianggap mulia di mata Allah," tutup Vebri.
Dengan demikian, gelaran kebangsawanan di Palembang mencerminkan sejarah dan tradisi yang kaya, namun juga menghadapi berbagai persepsi dan interpretasi yang berbeda dalam masyarakatnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....