Nyaris Punah, Kini Kain Koffo Dapat Dinikmati Dunia

  • 08 Agt 2024 20:48 WIB
  •  Tahuna

KBRN, Tahuna: Kain Koffo, kain tradisional yang terbuat dari serat batang pisang abaka (Musa textilis), hanya bisa ditemukan di Kepulauan Sangihe. Pisang abaka, yang juga dikenal sebagai pisang manila, merupakan tumbuhan asli Filipina yang banyak ditemukan di Sangihe karena kedekatan geografisnya.

Serat pisang abaka memiliki kekuatan dan daya serap yang lebih tinggi dibandingkan kapas. Masyarakat Sangihe telah menggunakan serat ini sebagai bahan baku pakaian sejak tahun 1500-an. Selain untuk pakaian, serat ini juga digunakan dalam pembuatan rumah adat dan uang kertas.

Pada masa lalu, Kain Koffo biasanya ditenun oleh putra dan putri Raja Sangihe - Talaud, namun seiring waktu, masyarakat umum pun mulai menenun kain ini. Kain yang digunakan dalam berbagai ritual adat ini berfungsi sebagai penutup kepala pria, baju terusan, sarung, hingga selendang.

Sayangnya, pada tahun 1800-an, kegiatan tenun Kain Koffo menurun drastis akibat larangan pemerintah Kolonial Belanda terhadap budidaya pisang abaka, menggantinya dengan kapas, kopi, dan tebu yang dianggap lebih bernilai ekonomis. Meskipun begitu, Kain Koffo tetap diakui sebagai kain tradisional yang sarat makna filosofis.

Kain Koffo pertama kali dipresentasikan pada tahun 1927 oleh Kerajaan Tabukan di Istana Sultan Surakarta dan menerima penghargaan Eradiploma dari Kolonial Belanda.

Pada tahun 2017, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Kain Koffo sebagai warisan non-material yang harus dilestarikan di antara 33 tekstil tradisional Indonesia. Inovasi modern kini mengubah Kain Koffo menjadi berbagai produk seperti baju, scarf, pouch, hingga masker.(Rico).

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....