Alasan Mengapa Bahasa Serawai Belum Disebut "Bahasa"

  • 02 Agt 2024 18:05 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu: Suku Serawai merupakan suku terbesar kedua di provinsi Bengkulu setelah suku Rejang. Sebaran suku ini umumnya berada di kabupaten Bengkulu Selatan, yakni di kecamatan Sukaraja, Seluma, Talo, Pino, Kelutum, Manna, dan Seginim, Kedurang Padang Guci, Kinal.

Namun, suku Serawai dikenal memiliki mobilitas yang tinggi, suku serawai juga mudah ditemukan di Kota Bengkulu, Kepahiang, Bengkulu Tengah hingga Rejang Lebong. Nyaris sangat mudah menemukan masyarakat serawai di smeua wilayah di Bengkulu.

Bahasa yang digunakan adalah bahasa melayu tengah, atau bahasa Melayu Bengkulu dialek Serawai. Sebagai suku dengan sebaran terluas, sejumlah pihak mempertanyakan bahasa Serawai yang belum menjadi bahasa secara utuh, melainkan baru menjadi satu diantara 8 dialek melayu Bengkulu.

Peneliti Bahasa Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu M. Yusuf mengatakan penentu suatu bahasa adalah hasil riset yang panjang. Diantaranya ketidak miripannya dengan bahasa lain.

Jika suatu bahasa 80 persen mirip dengan bahasa lain, maka akan disebut sebagai dialek. Dialek sendiri merupakan bagian dari bahasa dengan cengkok atau irama yang berbeda.

Sementara jika berbeda mencapai 80 persen, maka akan diklasifikan sebagai bahasa. Dua diantaranya adalah bahasa Rejang dan Enggano.

Dua bahasa ini kata Yusuf tidak sama dengan bahasa melayu. Sehingga Rejang berdiri sebagai bahasa sendiri dengan dialek Lebong, Kepahiang, Curup dan Utara.

Salah satu contoh kemiripan itu bisa dilihat dari banyak kosakata antara dialek searawai, basemah, dan lembak yang mirip. Seperti kata apa, menjadi "apau", "ape," dan "ape'.

Sementara di bahasa Rejang apa adalah "jano". Sementara dalam bahasa Enggano akan lebih berbeda jauh.

"Penentunya para peneliti, bukan kantor bahasa. Peneliti itu tergabung dalam Badan Riset Indonesia atau BRIN," jelas Yusuf.

Sementara itu ahli bahasa Universitas Bengkulu Prof. Arono mengatakan bahasa bersifat cukup dinamis. Jika saat ini masih dikategorikan sebagai dialek maka bisa saja lewat bukti yang lebih mendukung serta dokumen yang memadai menjadi bahasa Serawai, bukan dialek Serawai.

Sama juga dengan Mulak, saat ini belum terpetakan sebagai bahasa atau pun dialek. Namun, saya meyakini jika Mulak adalah bahasa yang saat ini digunakan oleh masyarakat Kaur, mulai dari Tanjung Iman, Kair Tengah sampai ke Nasal.

"Butuh dokumen lanjutan, penelitian yang komprehensif dan tentunya bisa dipertanggungjawabkan. Saat ini bahasa daerah di Bengkulu ya memang baru tiga, Enggano, Rejang dan Melayu Bengkulu," papar Arono kepada RRI beberapa waktu lalu.

Kemiripan suatu dialek dengan dialek lain memang mudah ditemukan di Melayu Bengkulu. Masyarakat Serawai bisa mudah untuk mengerti dialek Basemah, Lembak, hingga Pekal akibat banyaknya kata-kata yang mirip.

Adapun bahasa Melayu Bengkulu terbagi menjadi 8 dialek. Yakni dialek Serawai, Basemah, Lembak, Pekal, Melayu Bengkulu Pesisir, Nasal 1 dan Nasal 2, dan Muko-muko.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....