Bubur Tujuh Warna Dalam Peringatan Malam Satu Suro

  • 07 Jul 2024 03:24 WIB
  •  Kediri

KBRN, Kediri: Bubur tujuh warna menjadi salah satu hidangan pilihan yang selalu dihadirkan dalam peringatan malam satu suro atau tahun baru satu Muharram 1446 Hijriah, Sabtu (6/7/2024). Bagi masyarakat Jawa, momen malam ini menjadi satu perayaan penting yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Apapun bentuk tradisi peringatan malam satu suro khususnya bagi masyarakat Jawa yang tinggal di Kediri, malam yang dianggap spesial karena sakral ini selalu identik dengan adanya jenang atau bubur suro. Malam yang dimaksud adalah berdasarkan hitungan kalender Jawa dengan acuan setelah melewati pukul 16.00 WIB.

Bubur suro, masyarakat Kediri menyebutnya jenang suro, yang kerapkali menjadi ubo rampe atau unsur-unsur sajian makanan pelengkap dalam helatan perayaan malam satu suro sesuai dengan tradisi masing-masing. Dalam menyajikan jenang suro, masyarakat pun memiliki banyak alternatif pilihan mulai bubur sayur berbahan dasar beras putih hingga bubur tujuh warna yang terbuat dari tepung beras.

Bubur tujuh warna dapat dipilih sebagai alternatif untuk hidangan perayaan malam tahun baru Islam atau malam satu suro. Hal ini dikarenakan dari segi proses pembuatan dan penyajian, bubur tujuh warna dianggap jauh lebih praktis dan murah. Selain itu, tidak berbeda dengan bubur sayur yang tujuh isian lauknya memiliki maknanya sendiri, tujuh warna dalam jenang suro pun juga memiliki arti khusus yang dihubungkan dengan filosofi kehidupan disertai doa.

RRI Kediri berkesempatan singgah di kediaman Umi Khulsum (65), warga Kota Kediri yang rutin selalu menyiapkan peringatan malam satu suro dengan beberapa ubo rampe pada sore hari sebelum waktu untuk sholat maghrib tiba. “ Selain jenang (red. bubur) tujuh warna, saya selalu lengkapi dengan jajan pasar. Selain persiapannya mudah, biayanya juga murah. Yang terpenting kan doanya ya karena ini malam sakral dan suci, “ kata perempuan dengan tiga orang cucu ini, Sabtu (6/7/2024).

Umi, sapaan akrabnya, ia turut berbagi filosofi dari bubur tujuh warna yang setiap tahun dihadirkan sebagai salah satu hidangan yang juga digemari oleh anak dan cucu-cucunya. “ Dari tujuh warna, yang wajib ada warna putih letaknya ditengah. Yang lain pelengkap seperti hijau, biru, kuning, merah, coklat, dan hitam. Cara makannya urut dari putih dulu, dilanjutkan dengan warna lain, lalu diakhiri lagi dengan warna putih. Ini gambaran siklus kehidupan. Kita lahir dalam kondisi suci, putih, bersih. Harapannya diakhir masa hidup kita setelah melewati berbagai dinamika yang ada, kita kembali putih, “ ucapnya kepada RRI, Sabtu malam.

Sebagai informasi, selain melaksanakan ritual secara individu di rumah masing-masing melalui berbagai macam jenis tradisi sesuai yang dipercayai, masyarakat Kediri juga banyak yang memperingatinya dengan melakukan doa bersama warga. Orang-orang menyebutnya tradisi selametan (red. selamatan) yang bertujuan untuk mengucap syukur atas keberkahan yang diraih dalam setahun seraya berdoa bisa memperoleh lebih banyak kebaikan di tahun-tahun selanjutnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....