Mengenal Multatuli dan Semangat Perlawanan Terhadap Tirani
- 20 Jun 2024 14:41 WIB
- Banten
KBRN, Serang: Nama Multatuli mungkin tidak asing bagi para pecinta sastra dan sejarah di Indonesia. Penulis kelahiran Belanda yang bernama asli Eduard Douwes Dekker ini dikenal luas melalui karya monumental "Max Havelaar," yang diterbitkan pada tahun 1860. Buku ini mengguncang dunia kolonial Belanda dan menyoroti penderitaan rakyat pribumi di Hindia Belanda akibat sistem tanam paksa yang diterapkan oleh pemerintah kolonial.
Melalui tulisannya, Multatuli bukan hanya mengkritik kebijakan kolonial, tetapi juga memberikan pandangan mendalam tentang ketidakadilan dan kemanusiaan yang tetap relevan hingga kini.
Kepala UPT Museum Multatuli Rangkasbitung, Ubaidillah Muchtar menjelaskan bahwa Multatuli ini adalah seorang mantan asisten residen di Lebak, Banten pada tahun 1856. Ia merupakan sosok yang dikenal luas atas jasanya mengungkapkan borok kolonialisme Belanda di Hindia Belanda dan membuka mata dunia tentang kejahatan kolonialisme.
"Multatuli memainkan peran besar dalam sejarah Kabupaten Lebak, namun pengaruhnya melampaui batas wilayah tersebut, Max Havelaar menjadi inspirasi bagi banyak tokoh penting Indonesia, termasuk R.A Kartini, yang setelah membaca novel tersebut menyadari pentingnya perjuangan untuk kemerdekaan dimana novel ini menyoroti penderitaan rakyat di bawah penjajahan dan menyadarkan banyak orang akan buruknya sistem kolonial yang menindas," kata Ubay kepada RRI Banten pada Kamis (20/6/2024).
Ubay juga menjelaskan bahwa Multatuli mengorbankan karirnya sebagai pegawai pemerintah Belanda untuk membela kemanusiaan dan nilai-nilai kehidupan. Ia memperjuangkan bahwa semua manusia, tanpa memandang warna kulit, berhak mendapatkan perlakuan yang adil dan setara. Multatuli melawan ketidakadilan, kesewenang-wenangan, dan korupsi yang dilakukan oleh pemerintah Belanda dan pemimpin lokal.
Nama Multatuli yang berarti (aku telah banyak menderita) diabadikan dalam sebuah museum di Kabupaten Lebak, bukan hanya untuk mengenang individunya, tetapi juga untuk menghidupkan nilai-nilai dan semangat anti kolonialisme. Jasanya tidak hanya besar untuk Kabupaten Lebak, tetapi juga bagi seluruh Indonesia, bahkan dunia, karena membuka kesadaran bahwa penjajahan adalah suatu kejahatan yang harus diakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....