Menyelami Keheningan Gua Maria Lawangsih

  • 27 Apr 2024 20:58 WIB
  •  Yogyakarta

KBRN, Yogyakarta: Hening, teduh, dan khidmat. Itulah kalimat pertama yang akan terucap ketika pertama kali menginjakkan kaki di Gua Maria Lawangsih, Kulon Progo. Udara segar akan menyapa kita, dengan diiringi lambaian dedaunan pepohanan rindang yang tumbuh di kompleks gua.

Kondisi tersebur membuat perjalanan yang ditempuh sekitar 1 jam ke arah barat dari Tugu Pal Putih Kota Yogyakarta seakan tidak sia-sia. Setelah melalui simpang Kenteng Nanggulan, publik akan disuguhi pesona alam deretan perbukitan Menoreh, dengan puncaknya yang eksotis.

Kelok jalan tanjakan dan turunan, memaksa kita harus fokus berkendara, dan mengasah adrenalin. Sesekali kita bisa menikmati bentangan alam kota Yogyakarta dari ketinggian.

Gua Maria Lawangsih, salah satu destinasi wisata religi bagi umat Katolik. Banyak dikunjungi di bulan Mei dan Oktober, bulan yang secara khusus didedikasikan kepada Bunda Maria. Terletak di kawasan Pegunungan Menoreh, tepatnya di Dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta.

Seperti dikutip dari laman resmi Keuskupan Agung Semarang (KAS) yaitu www.kas.or.id, secara administratif kegerejaan berada di wilayah Paroki Santa Maria Fatima, Pelem Dukuh yang berinduk di Paroki Santa Maria Tak Bernoda Nanggulan, KAS.


Bagian mulut gua Maria Lawangsih, menjadi tempat umat Katolik berdoa, terutama di bulan Mei dan Oktober. (Foto : Koleksi Keuskupan Agung Semarang di www.kas.or.id)



Sebagai gua alami dan berudara sejuk serta letaknya yang jauh dari keramaian kota, membuat tempat ini sangat nyaman untuk berdoa maupun bermeditasi, mendekatkan diri dengan Sang Pencipta.
"Menemukan Tuhan dalam Keheningan” adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan Gua Maria Lawangsih ini.

Nama Lawangsih dimaksudkan untuk mengabadikan nama asli gua tersebut, sekaligus memiliki makna rohani. Lawangsih berasal dari kata "lawang" dalam bahasa Jawa berarti pintu, sedangkan kata sih dalam bahasa jawa yang maknanya rahmat atau berkat. Keberadaan Gua Maria Lawangsih diharapkan bisa menjadi pintu berkat/rahmat bagi para pendoa, peziarah dan masyarakat sekitarnya.

Bagian dalam gua Maria Lawangsih penuh keheningan, menjadi tempat berdoa dan meditasi. (Foto : Koleksi Keuskupan Agung Semarang di www.kas.or.id)

Umat Katolik dapat memilih dua tempat yang gunakan untuk beribadah di Gua Maria Lawangsih. Pertama di bagian mulut goa yaitu di depan Patung Bunda Maria, dan yang yang kedua di dalam Gua yang disebut Panti Semedi.

Umat Nasrani bisa menikmati keindahan gua yang terjaga keasliannya hingga saat ini, dengan ornamen stalagtit dan stalagmitnya. Sarana dan prasarana yang disediakan di Gua Maria Lawangsih yaitu rute jalan salib, air suci, tempat beristirahat, kamar mandi, tempat parkir dan warung.

Lokasi Gua Maria Lawangsih tidak jauh dari obyek wisata lainnya di perbukitan Menoreh seperti Waduk Sermo, Gua Kiskendo, dan beberapa destinasi puncak bukit. Sepanjang jalan menuju Gua Maria Lawangsih terdapat banyak pusat kuliner bernuansa makanan pedesaan, yang bisa dicicipi.

Satu lagi yang unik dan harus dicoba adalah geblek, yang merupakan makanan khas Kulonprogo. Pastikan kendaraan dalam keadaan laik jalan agar perjalanan aman dan nyaman, saat akan menuju Gua Maria Lawangsih. (ferry/ros/tinus)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....