Mandau dan Kehormatan Pemiliknya
- 24 Apr 2024 14:23 WIB
- Palangkaraya
KBRN, Palangka Raya: Di Indonesia, dihuni berbagai suku dan bangsa, memiliki ragam senjata tradisional yang berbeda-beda.
Satu di antaranya adalah senjata tradisional Kalimantan Tengah yang terkenal melegenda milik suku Dayak.
Mandau yang juga disebut Mando, merupakan senjata khas Kalimantan Tengah, yang dipakai oleh suku Dayak.
Mandau merupakan senjata khas dan tradisional suku dayak, senjata ini cukup populer di kalangan masyarakat Kalimantan dan Indonesia. Mandau bentuknya seperti parang dan memiliki ukiran pada bagiannya.
Mandau juga sering digunakan dalam berbagai upacara ritual dan berfungsi untuk kehormatan pemiliknya.
Dikalangan suku dayak Kalimantan Mandau merupakan senjata persatuan dayak borneo yakni Kalimantan, serawak, sabah dan brunai, namun demikian senjata yang dimiliki kaum dayak cukup beragam dan bervariatif dan unik.
Menurut Kepala UPT Museum Balangan Kalimantan Tengah, Hartini Titin, Mandau merupakan senjata tradisional khas suku dayak di Kalimantan yang biasa digunakan untuk bertahan dan menyerang.
Mandau terdiri dari bilah/mata sarung, hulu/gagang terbuat dari kayu. Pada sarung terdapat 3 buah jalinan rotan yang berfungsi sebagai pengikat simpai dan tali rotan untuk mengaitkan Mandau ke pinggang penggunanya. Selain itu menempel kulit kayu sebagai kumpang pisau kecil pada kumpang Mandau tersebut.
Sedangkan hulu/gagang Mandau terdapat hiasan motif tradisional suku dayak kepala Naga dan rambut. Teknik pembuatannya menggunakan pertukangan, tempa dan raut/ukir. ”Di Museum Balanga ini, diameter panjang Mandau yang ada saat ini panjang 119 cm dan lebar 8 cm,” ucapnya, Rabu (24/4/2024).
Sementara itu Pencinta Seni Budaya yang juga Kepala Bidang Perindustrian, DPKUKMP Palangka Raya Margalis mengatakan memang sampai saat ini, Mandau merupakan barometer dan alat kehormatan bagi warga suku dayak di Kalimantan. Dan untuk aktualisasi pemeliharaan alat budaya ini merupakan bagian dari infrastruktur kebudayaan dayak Kalimantan tengah.
Untuk pembuatan Mandau atau bidang Industri sendiri di jelaskan Margalis pihaknya telah memiliki KBNI dari sisi logam, melibatkan industri berbahan dasar logam yakni pandai besi yang menghasilkan bilah-bilah mandau, sementara itu kumpangnya merupakan bagian dari industri kerajinan. ”Kami tetap melakukan pengembangan pengerajin dan pandai besi hingga memberikan pelatihan-pelatihan,” katanya.
Untuk itu hingga kini di Kota Palangka Raya, terus dilakukan mengembangkan kerajinan pembuatan Mandau, khas dayak Kalimantan dan bagi pengerajin Mandau Kalteng, terus mendapatkan pemberdayaan dan pelatihan-pelatihan.
Sehingga pengerajin hingga pandai besi Kalteng yang hingga kini masih membuat atau memproduksi senjata khas suku dayak Kalimantan ini, terus lestari, mengingat Mandau bagi suku dayak identik dengan kehormatan bagi pemiliknya. Tentunya dari segi bahan hingga pembuatan di sesuaikan dengan kebutuhan. Khususnya bagi Mandau yang hingga kini tersimpan atau terpajang menjadi koleksi museum balangan, kebanyakan memang memiliki filosopi dan makna dari si pemiliknya.
Contohnya Mandau peninggalan Pendiri Kalimantan Tengah dan juga merupakan Gubernur Kalimantan Tengah Pertama Tjilik Riwut yang dihibahkan Keluarga, sebagai koleksi Museum Balanga di Kota Palangka Raya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....