Karya Melegenda "Hari Lebaran" Ismail Marzuki
- 10 Apr 2024 10:47 WIB
- Madiun
KBRN, Madiun: Siapa sangka sang maestro Ismail Marzuki lah yang menciptakan lagu hari lebaran, yang setiap perayaan Idul Fitri selalu diperdengarkan oleh masyarakat Indonesia. Lagu ini menggambarkan suasana kegembiraan dan sukacita dalam menyambut hari yang fitri setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.
Lagu yang begitu populer ini bahkan seringkali diaransemen oleh banyak seniman, mulai dari Tasya Kamila, Deredia, Gigi, dan lain sebagainya. Dikutip dari channel Youtube Video Sejarah, lagu Hari Lebaran diciptakan Ismail Marzuki di tahun 1950-an, tak lama setelah Belanda hengkang dari Indonesia pada akhir 1949. Lagu ini diyakini pertama kali dinyayikan oleh Didi, nama samaran dari Suyoso Karsono, diiringi group vokal Lima Seirama, kala itu perekaman dilakukan di Studio RRI Jakarta.
Sebagai lagu lebaran pertama, lagu ini turut andil mempopulerkan ucapan 'mina aidzin wal faidzin' sekaligus memberikan warna pada kosa kata baru bahasa populer di Indonesia. Namun karena diikuti oleh lirik 'maafkan lahir dan batin' kalimat tersebut disalah artikan oleh masyarakat Indonesia sebagai memaafkan lahir dan batin. Padahal makna sebenarnya dari 'minal aidzin wal faidzin' adalah 'semoga kita termasuk golongan yang kembali mendapat kemenangan.
Melalui lagu yang memiliki irama riang nuansa khas perjuangan ini pun sebenarnya Ismail Marzuki memotret realitas kesenjangan sosial pada masa itu, bisa diartikan sebenarnya lagu Hari Lebaran adalah salah satu lagu kritik sosial.
Lagu inipun tercatat sebagai lagu Indonesia pertama yang memuat kata korupsi dan judi dalam liriknya. Bukan hanya lagu dengan irama unik, lirik dalam lagu inipun khas dengan dialek Betawi, namun kebanyakan penyanyi yang mengaransemen ulang lagu ini tak sampai menuntaskan hingga usai semua lirik lagunya, hanya sampai 'minal aidzin wal faidzin maafkan lahir dan batin, selamat para pemimpin rakyatnya makmur terjamin.' Padahal lirik lagu ini cukup panjang menggambarkan keadaan Jakarta tahun 1950-an, bisa dilihat dari beberapa kosa kata seperti "trem listrik", "selop", "terompah" (terompe) dan "main ceki".
Trem adalah alat transportasi massa di Jakarta yang kini sudah tidak ada. Begitu pula sebutan selop dan terompah untuk alas kaki yang kini jarang digunakan, lebih sering menggunakan kata sandal. Sedangkan ceki adalah permainan kartu yang dimainkan oleh empat orang, lazimnya dari malam hingga dini hari, yang biasanya diiringi taruhan berupa uang.
Namun yang tak kalah menarik, pada bagian akhir ada bait yang berbunyi "Kondangan boleh kurangin, Korupsi jangan kerjain". Bait ini tampaknya masih relevan sampai sekarang, berupa ajakan hidup sederhana, tidak pamer harta, dan jangan korupsi.
Berikut lirik selengkapnya lagu Hari Lebaran Ismail Marzuki,
Setelah berpuasa satu bulan lamanya. Berzakat fitrah menurut perintah agama. Kini kita beridul fitri berbahagia. Mari kita berlebaran bersuka gembira. Berjabatan tangan sambil bermaaf-maafan. Hilang dendam habis marah di hari lebaran
Reff:
Minal aidin wal faidzin. Maafkan lahir dan batine. Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin.
Dari segala penjuru mengalir ke kota, rakyat desa berpakaian baru serba indah. Setahun sekali naik terem listrik perey. Hilir mudik jalan kaki pincang sampai sore. Akibatnya tengteng selop sepatu terompe, kakinya pada lecet babak belur berabe
Reff:
Maafkan lahir dan batin,'lang tahun hidup prihatin. Cari wang jangan bingungin,'lan Syawal kita ngawinin
Cara orang kota berlebaran lain lagi, kesempatan ini dipakai buat berjudi. Sehari semalam main ceki mabuk brandi. Pulang sempoyongan kalah main pukul istri. Akibatnya sang ketupat melayang ke mate. Si penjudi mateng biru dirangsang si istri
Reff:
Maafkan lahir dan batin,'lang taon hidup prihatin. Kondangan boleh kurangin. Korupsi jangan kerjain
Ismail Marzuki merupakan salah seorang pahlawan nasional. Namanya ditetapkan sebagai pahlawan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 2004 di Istana Negara. Ismail menikah dengan Eulis Zuraida.
Ia mengenal Ismail pertama kali ketika lagunya berjudul "O Sarinah" menjadi hits di radio. Sang musisi meninggal pada 25 Mei 1958, Kampung Bali, Jakarta Pusat. Namanya kemudian diabadikan sebagai pusat kesenian yang berlokasi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Taman Ismail Marzuki atau TIM.
Karya-karyanya tetap lestari. Sebut saja lagu-lagu berjudul 'Panon Hideung', 'Aryati', 'Gugur Bunga', 'Melati di Tapal Batas', 'Halo, Halo Bandung', 'Indonesia Pusaka', adalah sederetan lagu yang dikenal luar. Ismail Marzuki lahir di Kampung Kwitang, Jakarta Pusat, 11 Mei 1914. Di lingkungan keluarga maupun kerabat,
ia sering dipanggil dengan sebutan Mail atau Maing. Ayahnya Ismail Marzuki, Marzuki Saelan, sosok yang cukup disegani di kawasan Kwitang saat itu. Ia juga aktif di kelompok musik di tempat tinggalnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....