Mengenal Jenis dan Makna Gunungan di Grebeg Sawal
- 10 Apr 2024 08:50 WIB
- Yogyakarta
KBRN, Yogyakarta : Tradisi Grebeg identik dengan keberadaan gunungan yang dijadikan simbol kemakmuran Keraton Yogyakarta. Gunungan adalah makanan dalam jumlah besar dari berbagai hasil bumi yang nantinya dibagikan kepada masyarakat.
Dalam satu tahun, upacara grebeg diadakan tiga kali berdasarkan momen penanggalan Islam. Penghageng II KHP Widyabudaya KRT Rintaiswara Keraton Yogyakarta kepada rri.co.id pada Selasa (9/4/2024) menyampaikan tentang makna kegiatan ini.
“Garebeg yang dilakukan di keraton adalah Hajad Dalem, sebuah upacara budaya yang diselenggarakan oleh keraton dalam rangka memperingati hari besar agama Islam yakni Idulfitri, Iduladha, dan Maulid Nabi Muhammad SAW,” ujar pria yang karib disapa Kanjeng Rinta ini.
Dalam pendapat lain dikatakan bahwa garebeg atau yang umumnya disebut “grebeg” berasal dari kata “gumrebeg”, mengacu kepada deru angin atau keramaian yang ditimbulkan pada saat berlangsungnya upacara tersebut.
“Gunungan merupakan perwujudan kemakmuran keraton atau pemberian dari raja kepada rakyatnya. Jadi makna garebeg sawal secara singkatnya adalah perwujudan rasa syukur (mangayubagya) akan datangnya Idulfitri, yang diwujudkan dengan memberikan rezeki pada masyarakat melalui ubarampe gunungan yang berupa hasil bumi dari tanah Mataram,” kata Kanjeng Rinta.
Sejatinya, masyarakat dalam memperoleh gunungan pada konsep awalnya memang nyadhong atau menunggu giliran untuk mendapatkannya.
“Ini merupakan perlambang kesabaran manusia. Berbeda dengan merayah, karena kesannya yang kuat pasti yang akan mendapatkan dahulu,” jelas Carik Kawedanan Widya Budaya, KRT Widyacandra Ismayaningrat di kesempatan terpisah.
Kanjeng Candra, sapaannya, menambahkan bahwa cara membawa dan memberikan ubarampe pareden gunungan adalah dengan diemban sebagai wujud penghormatan karena ubarampe adalah sedekah raja atau paring dalem.
“Merupakan wujud hormat dan sopan santun karena para utusan mengemban amanah untuk membagikan,” terangnya.
Ubarampe yang dibawa oleh para utusan ke Kepatihan dan Ndalem Mangkubumen akan diemban dengan kain cinde warna merah yang digunakan dalam upacara-upacara besar dan sakral. Sebanyak 50 pareden gunungan yang dibagikan berwujud rengginang dan tlapukan bintang yang memiliki lima warna.
“Hitam melambangkan kewibawaan dan keteguhan, putih itu kesucian, merah lambang keberanian, hijau mengisyaratkan kesuburan/kemakmuran, serta kuning melambangkan kemuliaan,” ujar Kanjeng Candra.
Pemilihan warna tersebut erat kaitannya dengan kearifan jawa terkait mata angin (kiblat papat limo pancer), pancawara atau perhitungan hari pasaran, maupun gambaran hawa nafsu manusia. (Wulan/Dev)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....