Lamaran dan Paningset Dalam Upacara Adat Perkawinan Gaya Surakarta
- 30 Jan 2024 09:56 WIB
- Surakarta
KBRN,Surakarta: Masyarakat yang menggunakan Tata Upacara Perkawinan Adat Jawa Gaya Surakarta, semestinya tetap mengikuti proses maupun ketentuan dalam tata cara tradisi ini. Jika hal itu tidak diindahkan, maka makna dari nilai-nilai kearifan lokal dari adat perkawinan ini akan berkurang bahkan hilang.
Demikian disampaikan K.P. Bumimoyo "Soeseno" Renggodipoero, S.H., M.S.i, pakar pakar upacara pengantin Kraton Surakarta dalam acara Obrolan Budaya Pro 4 RRI Surakarta, membahas Topik “Tatacara Panglamar Utawi Panembung lan Paningset Ing Surakarta Hadiningrat”, Senin (20/1/2024).
Dijelaskan, Lamaran atau melamar adalah proses keluarga calon pengantin pria menyampaikan keinginan untuk mengambil menantu seorang gadis, di mana lamaran dilakukan oleh orang tua pihak laki-laki, dengan secara resmi menyampaikan surat tertulis. Sedangkan paningset adalah ubarampe atau peralatan yang digunakan sebagai pengikat hubungan antara kedua belah pihak yang sepakat akan berbesanan, manakala lamaran telah diterima.
"Fenomena sekarang di mana saat melakukan lamaran, keluarga calon mempelai pria sudah membawa ubarampe paningset, sebenarnya merupakan sesuatu yang janggal. Namun karena alasan praktis dan ekonomis, hal tersebut sering dilakukan", jelas Kanjeng Seno sapaan akrabnya, yang juga dikenal sebagai Dwija atau guru pada Sanggar Pasinaon Pambiwara Karaton Surakarta.
Mengenai makna dan arti Paningset menurut Kanjeng Seno, bisa dipahami sebagai ikatan kedua belah pihak yang akan besanan atau mengikat untuk proses perjodohan menuju perkawinan.
Ubarampe Paningset ini meliputi: Stagen, Sindur, Semekan/kemben, sinjang truntum, ali ali, dilengkapi dengan Pisang ayu, suruh ayu, cengkir gading dan tebu.
“Seluruh peralatan tersebut memiliki arti filosofis atau simbolis yang menuju kepada doa dan harapan untuk calon mempelai dalam mencapai keselamatan, kerukunan, kebahagiaan, kemuliaan dan kelak memperoleh keturunan yang baik atau disebut Wiji Dadi Utami,” pungkas Kanjeng Seno dalam Obrolan Budaya RRINet RRI Surakarta. (Ali Marsudi)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....