Panas Ekstrem, Air Limbah, dan Keringnya Sawah Rorotan

  • 08 Sep 2023 12:51 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

SUATU siang di pengujung Agustus lalu, matahari bersinar begitu terik. Musim kemarau ditambah fenomena El Nino menyebabkan hujan seperti emoh membasahi bumi.

Pemandangan itu merupakan gambaran wilayah Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara. Sirojudin Abbas, warga Rorotan, mengungkapkan kawasan tempat tinggalnya itu sudah lebih dari dua bulan tidak pernah disapa hujan.

Abbas yang berprofesi sebagai petani memperlihatkan lahan sawahnya yang mengering, tanahnya pecah-pecah. Ia lantas mengajak menyusuri petak-petak sawah di lokasi tersebut.

Menapaki jalan setapak sambil melihat sisi kanan dan kiri, tanaman padi terhampar sangat luas. Cukup untuk membuat takjub masih ada persawahan di ibu kota.

Abbas yang juga pengurus Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rorotan mengungkapkan masih tersisa 300 hektare lahan persawahan di Rorotan. Ini merupakan areal persawahan yang paling luas di Jakarta.

“Hanya di sini (Rorotan) yang masih luas sawahnya. Makanya kalau bisa dipertahankan,” ucap Abbas.

Sayang, lahan pertanian di Rorotan saat ini kondisinya memprihatinkan. Bagian bawah sawah yang seharusnya basah, justru terlihat kering retak-retak atau ‘mletek’.

Kondisi ini membuat petani terancam mendapatkan hasil pertanian yang tidak maksimal. “Petani terus berupaya mencari sumber air, sambil berharap hujan turun,” ujar Abbas.

“Namun sekarang enggak mungkin karena sedang kemarau. Maka kami cari sumber irigasi yang bisa membantu, misalnya dari limbah rumah tangga,” ia menambahkan.

Abbas juga menunggu bantuan dari pemerintah untuk mencari solusi permasalahan kurangnya air di lahan pertanian. Tanpa peran pemerintah bakal sulit bagi petani untuk mengatasi kekeringan.

“Saya berharap pihak terkait, kalau bisa BKT (Sungai Banjir Kanal Timur) ini kan dekat, ya dibuat saluran sedikit, dikucurkan ke lahan kami,” kata Abbas.

RRI bersama Sirojudin Abbas, salah seorang petani di Rorotan (Foto: RRI/Ari Dwi P.)

Saat ini, sebagian areal persawahan, sedang dalam tahap menunggu masa panen. Sekitar satu bulan lagi, padi siap dituai.

Sementara sebagian areal lainnya, masih dibiarkan begitu saja oleh para petani. Mereka terpaksa tidak bisa mulai menanam padi, karena sampai sekarang hujan tidak kunjung datang.

“Harusnya saya mau turun tanam lagi, mau mulai bajak, tetapi enggak ada air. Kalau yang sawah pinggir-pinggir ada airnya sedikit, dari Kali Gendong,” Abbas bercerita.

“Petani di sana mengajak untuk tanam bareng. Namun kelompok tani saya belum bisa,” ia menambahkan.

Selain kekurangan air, produksi padi juga terancam tidak maksimal karena gangguan hama. Abbas lalu menunjukkan tanaman padi yang terserang hama.

“Ini faktor kekurangan air juga, terus ada hama. Jadi tanamannya sakit begini. Ini kalau menurut saya Karena kering dan kena wereng,” kata Abbas.

Di sisi areal lainnya, seorang petani bernama Asih, terlihat sedang menanam bibit sayuran. Di tengah terik matahari siang itu, Asih menyebar bibit sayur sawi, sambil mendengarkan lagu-lagu Sunda favoritnya dari radio di telepon genggam.

“Menanam sayuran sih aturannya sore. Karena sekalian disiram,” ucap Asih.

Asih yang asli Indramayu juga mengairi lahan perkebunan dengan air limbah rumah tangga. Hal ini karena hujan yang diharapkan tidak kunjung turun.

“Di sini sudah jarang hujan. Jadi airnya ya menyedot dari buangan rumah tangga. Dari situ airnya diendapkan,” kata Asih.

Asih salah seorang petani yang berkebun di Rorotan (Foto: RRI/Ari Dwi P.)

Asih dan sebagian besar petani lainnya di Rorotan, hanyalah buruh tani. Mereka menggarap lahan sawah, yang sebagian besar telah menjadi milik perusahaan, yang disewa per enam bulan.

Asih harus membayar biaya sewa lahan Rp500 ribu tiap enam bulan. Meski lahannya dilanda kekeringan, Asih dituntut tetap kreatif agar tetap bisa menanam sayuran.

Karena hasilnya, bisa untuk membiayai kebutuhan sehari-hari bersama dua anaknya. Apalagi suaminya sudah meninggal.

Lahan pertanian di wilayah Jakarta, memang tak lagi tersisa banyak. Namun keberadaannya dapat menopang kebutuhan pangan sebagian warga ibu kota.

Menurut Abbas, tiap 1 hektare sawah, dapat menghasilkan 6-7 ton gabah. Itulah yang membuat para petani Rorotan berharap lahan pertanian di sana tetap dipertahankan.

Meski lebih banyak petani penggarap, mereka tidak ingin pengembangan kawasan hunian di Rorotan memunculkan fenomena lain. Apa itu? Alih fungsi lahan menjadi perumahan.

“Sebab, pertanian ini banyak manfaatnya. Misalnya buat paru-paru kota hingga penanggulangan banjir,” kata Abbas.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....