Memahami Al-Qur'an Harus Bersanad

  • 30 Mei 2023 14:26 WIB
  •  Jambi

KBRN, Jambi : Dalam khazanah keilmuan Islam dikenal istilah sanad. Yakni silsilah keilmuan yang bersambung sampai kepada Rasulullah. Begitu penting kedudukan sanad dalam beragama, banyak para ulama yang terkenal sebagai pakar juga berkat sanad guru-guru mereka. Tradisi sanad juga masih kental dilestarikan di banyak pesantren di Indonesia.

Sebagai contoh, dalam disiplin ilmu fikih, mayoritas pesantren di Indonesia, Jawa khususnya, melalui silsilah guru para kiai pengasuh pesantren tersebut mayoritas bersambung kepada Imam Syafi’i dari jalur Syeikh Zakaria Al-Anshari. Maftuhin mencatat sanad K.H. Maimoen Zubair di bidang fiqih berada di urutan ke 38 melalui ayahnya, K.H. Zubair yang berguru kepada K.H. Faqih Maskumambang, berguru kepada Syaikh Mahfud Tremas yang berguru kepada Sayyid Abu Bakar Syata, berguru pada Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan dan seterusnya hingga sampai kepada Rasulullah. Pada sanad ini, Syaikh Zakaria Al-Anshari berada di urutan ke 23. (Sanad Ulama Nusantara)

Sementara itu, As-Suyuthi menuliskan secara khusus sanad keilmuannya baik di bidang tafsir, hadist, fikih serta ilmu-ilmu yang lain di sebuah kitab dengan judul al-Mu’jam bi al-Munjim.

Hal ini diungkapkan Ustadz Miftahul Huda. M. PD. I (Penyuluh Agama Islam Kota Jambi) saat mengisi Mutiara Pagi di RRI Program 1 Jambi, Selasa (30/05/23). Sanad berasal dari bahasa arab, sanada-yasnudu-sunuudan yang artinya bersandar, naik, berpegang. Jika dibaca dalam bentuk tsulasi mazid dengan wazan af’ala menjada asnada-yusnidu-isnadan atau biasa disebut isnad bermakna membebankan, menopang, menyandarkan, menisbatkan, tergantung pada konteks kalimat. (Mu’jam al-Ghaniy)

Di dalam ilmu hadist, sanad dipahami sebagai mata rantai para periwayat matan hadis yang bermuara pada Rasulullah. Sanad memiliki posisi yang penting dalam diskurusus ilmu hadist, sebab kualitas serta kuantitas sanad menentukan kualitas sebuah hadist. Maka untuk menentukan kualitas suatu hadist perlu dilakukan sebuah penelitian atau kritik sanad.

Mengutip difinisi sanad dari Zainul Milal Bizawie bahwa sanad adalah transmisi keilmuan yang terjamin kebersambungannya dari guru satu ke guru lainnya sampai ke generasi sahabat yang mengambil ilmu agama dari Rasulullah.

Diambil kesimpulan bahwa mulanya, ilmu keislaman berasal dari satu yakni Rasulullah yang diturunkan kepada para sahabat. Kala itu belum terjadi dikotomi disiplin keilmuan Islam. Tetapi pada masa berikutnya, seiring dengan kemajuan Islam serta kebutuhan zaman, ilmu-ilmu keislaman terbagi menjadi banyak cabang seperti hadist, fiqih, tasawuf, Al-Qur'an, Qiraat dsb.

Secara esensi, Miftahul menjelaskan sanad merupakan sistem yang berfungsi menjaga kemurnian agama. Perkataan Ibn al-Mubarak tentang kedudukan sanad, jika saja tanpa sanad, maka seseorang akan mengatakan apa pun semaunya. Alasan penting bersanad dalam mengaji adalah dikarenakan adanya pemahaman tentang agama yang hanya bisa didapatkan melalui guru, tidak bisa sebatas dipelajari melalui kitab-kitab tertulis dengan cara membaca (otodidak).

Dalam konteks belajar Al-Qur'an, penting memilih guru yang memiliki latar belakang sanad keilmuan Al-Qur'an yang jelas. Guru Al-Qur'an Rasulullah pun jelas yaitu malaikat Jibril, jelasnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....