Buntut Blokade TPA, Ketua Fraksi PDI-P Ungkap Kondisi Putri Cempo
- 09 Feb 2026 12:02 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Putri Cempo Solo menjadi polemik dengan warga sekitar menjadi sorotan DPRD Solo. Puncak kejengkelan warga Kampung Jatirejo RW 39 Kelurahan Mojosongo terjadi pada Minggu 8 Februari dengan melakukan aksi blokade akses truk sampah ke TPA.
Ketua Fraksi PDI-P DPRD Solo YF Sukasno mengatakan permasalahan sampah di TPA sudah cukup lama. Bermula dari tumpukan sampah yang hampir 20 meter itu longsor dan menutupi akses kendaraan untuk loading sampah di bagian utara.
"Jadi Putri Cempo kondisinya saat ini itu sebetulnya belum full banget. Cuman karena ketinggiannya itu di atas 15 meter, tumpukan sampah itu hujan jugruk (longsor), sudah beberapa minggu. Sehingga jalan masuk dari timbangan ke lokasi yang sebelah utara tidak bisa dilewati mobil," kata Sukasno, Senin.

Dampak tertutupnya akses kendaraan pengangkut sampah hanya membuang sampah di sebelah timbangan. Akibatnya sampah menumpuk dan menyebabkan bau yang sangat menyengat di sekitar kampung.
"Yang kedua karena kapasitas di sini tidak terpenuhi akhirnya mobil dan motor sampah yang setiap harinya 400 ton itu ngantri sampai jalan di selatan kampung Jantirejo. Jadi Jantirejo seperti diputeri sampah," kata dia menjelaskan.
Sukasno mengatakan, sebelum aksi pemblokiran akses truk sampah, pihaknya sudah mendatangi TPA. Kondisi tumpukan sampah di dekat pemukiman warga sudah parah. Sementara mesin pengolah sampah menjadi energi listrik belum optimal.
"Ini sudah open dumping dan mesin tidak jalan. Sehingga baunya luar biasa. Apalagi yang mesin pengering sampah itu kan cerobongnya kurang tinggi sehingga asapnya ke mana-mana. Baunya lebih menyengat daripada sampah."
Pihaknya tak menyalahkan warga yang nekat melakukan protes sampai menutup akses, karena bau sampah sudah sangat parah. Pihaknya sempat melakukan pendekatan kepada warga agar membuka akses, mengingat sampah ratusan ton perhari.
"Kalau ini ditutup 400 ton sampah setiap hari mau dikemanakan. Kita pendekatan, akhirnya warga setuju dengan catatan Senin sudah harus mulai digeser gunung sampah yang 20 meter ke timur. Nanti kalau sudah tinggal 3 meter baru dibuka sampahnya sehingga tidak longsor," kata dia.
Sukasno mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Solo segera melakukan penanganan permasalahan sampah ini. Fraksi PDI-P akan terus mengawal polemik pengelolaan sampah di TPA.
"Yang penting mobil sampah motor sampah bisa masuk. Pasti itu membutuhkan anggaran karena Bego (ekskavator) kita hanya punya satu. Kalau narik itu ke timur itu enggak cukup. Maka saya pesan ke Kepala UPT Pak Edi untuk menghitung butuh berapa alat kita nyewa. Terus dihitung berapa anggarannya."
Dampak dari polemik sampah di TPA berdampak pada pengambilan sampah rumah tangga. Ita salah satu warga Mojosongo itu mengaku sejak hari Jumat 6 Februari sampai Senin ini sampah belum diangkut. Kondisi ini mengundang lalat dan bau tak sedap di pemukiman.
"Sejak Jumat tidak diambil, sampah numpuk dan baunya sudah keluar," kata Ita. MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....