Seribu Tumpeng Warnai Peringatan 100 Tahun NU di Sragen

  • 01 Feb 2026 06:03 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Sragen - Belasan ribu warga Nahdliyyin membanjiri Kawasan GOR Diponegoro, Sragen, Jawa Tengah, Sabtu 31 Januari 2026. Kehadiran mereka untuk merayakan 1 abad perjalanan Nahdlatul Ulama.

Tak hanya ustadz, kyai dan santri, tak sedikit pejabat di Pemerintah Kabupaten Sragen turut hadir dalam acara ini. Termasuk juga Bupati-Wakil Bupati Sigit Pamungkas-Suroto turut menghadiri perayaan ini. 

Peringatan 100 tahun berdirinya NU di Bumi Sukowati menjadi simbol "Kebangkitan Kedua". Kegiatan diwarnai dengan pesta 1000 tumpeng.

Tumpeng nasi kuning dengan lauk urap dan ayam Ingkung ditata berjajar mengelilingi GOR Diponegoro Sragen, dalam puncak perayaan 1 Abad NU, Sabtu 31 Desember 2026. (Foto: RRI/Mulato Ishaan)

Tak sekadar seremoni, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sragen tancap gas memperkuat fondasi organisasi melalui jalur ideologis kader dan kemandirian ekonomi riil.

Ketua Tanfidziah PCNU Sragen, Sriyanto, menegaskan bahwa momentum seratus tahun ini adalah pembuktian soliditas organisasi. Hal itu tampak dari banyaknya atribut yang menghiasi pelosok kabupaten. Termasuk kehadiran belasan ribu warga pada puncak resepsi di GOR Diponegoro Sragen. 

"Ini adalah momentum kebangkitan. Kami membuktikan bahwa konsolidasi organisasi berjalan melalui berbagai rangkaian acara yang melibatkan seluruh elemen," ujar Sriyanto.

Lanjut Sriyanto, fokus PCNU Sragen kini bergeser ke masa depan. Dua tantangan besar telah dipetakan yakni internal dan eksternal. Secara internal, penguatan ideologi melalui kaderisasi berjenjang, mulai dari tingkat cabang (PCNU), kecamatan (MWCNU), hingga desa (Ranting) menjadi harga mati sesuai amanah PBNU.

Di sektor eksternal, gebrakan paling konkret adalah peluncuran Sragen Mart. Sebuah proyek minimarket yang menjadi embrio kemandirian ekonomi warga Nahdliyin.

"Sragen Mart adalah wujud kemandirian kita. Kalkulasi kebutuhannya mencapai Rp 3 miliar, dan saat ini sudah terkumpul Rp 2,83 miliar," kata dia.

Menariknya, modal Sragen Mart bukan berasal dari satu-dua pemodal besar, melainkan hasil kolektif warga melalui sistem saham. Satu lembar saham dihargai Rp 250 ribu, yang diserap oleh warga NU dari tingkat desa hingga kabupaten. Strategi ini memastikan bahwa setiap warga memiliki rasa kepemilikan (sense of belonging) terhadap unit usaha tersebut.

Berlokasi di kawasan Atrium dengan status sewa, Sragen Mart tidak hanya menjual produk pabrikan. PCNU melalui Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) telah mematok kuota 30 persen rak untuk produk UMKM milik warga lokal.

"Kami sudah mendata produk UMKM warga. Jadi, Sragen Mart akan menjadi etalase sekaligus akses pasar bagi potensi ekonomi di tingkat bawah," tambah Sriyanto.

Semangat kolektivitas ini juga tercermin dalam tradisi tumpengan di acara harlah. Dari target 1.000 tumpeng, panitia justru kebanjiran kiriman hingga 1.134 tumpeng dari pengurus ranting. Setiap desa menyumbang tiga tumpeng sebagai simbol gotong royong.

Kini, PCNU Sragen berharap pemerintah daerah memberikan dukungan penuh terhadap agenda kemandirian ini. "Kami sangat berharap support pemerintah, terutama untuk program-program pemberdayaan masyarakat yang tengah kami laksanakan," katanya. MI

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....