Kenangan Warga Turgo Kala Merapi Batuk 32 Tahun Silam
- 27 Jan 2026 09:42 WIB
- Yogyakarta
RRI.CO.ID, Sleman - Peristiwa erupsi Gunung Merapi tahun 1994 masih membekas kuat dalam ingatan warga asal Dusun Turgo yang kini bermukim di hunian relokasi Sudimoro, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman. Salah satunya Agustinus Sawali, saksi hidup yang mengalami langsung kepanikan saat letusan terjadi.
Agustinus menuturkan, erupsi terjadi sekitar pukul 10.00 hingga 10.30 WIB. Saat itu hari Selasa, warga Turgo tengah berkumpul mempersiapkan hajatan pernikahan di salah satu rumah warga yang rencananya akan digelar pada hari Rabu dan Kamis. Banyak orang sudah datang untuk membantu persiapan acara sebelum Gunung Merapi 'batuk-batuk' mengeluarkan asap dan awan panas.
“Waktu itu suasananya kacau balau. Belum pernah sebelumnya erupsi sampai kena Turgo. Rasanya seperti kiamat,” ujar bapak kelahiran 1962 ini saat ditemui di Dusun Sudimoro, Senin, 26 Januari 2026.
Menurutnya, situasi mendadak mencekam karena tidak semua warga langsung menyadari besarnya ancaman. Sebagian bergegas menyelamatkan diri, tapi ada pula yang tetap bertahan karena merasa masih aman. Agustinus ingat setidaknya ada 64 orang dari RT 06 yang meninggal dunia, termasuk empat orang familinya.
“Ada yang langsung lari menyelamatkan diri, tapi ada juga yang yakin punya jalan sendiri, jadi tidak langsung pergi. Itu yang bikin banyak korban,” katanya.
Erupsi tersebut menjadi titik balik kehidupan warga Turgo. Permukiman lama kini telah berubah menjadi kawasan kebun. Sementara para penyintas direlokasi ke Sudimoro. Kini, meski tinggal di kawasan yang lebih aman, sebagian warga masih beraktivitas di lereng Merapi untuk berkebun dan beternak. Pelatihan mitigasi bencana dilakukan sewaktu-waktu ketika aktivitas gunung meningkat.
Bagi Agustinus, peristiwa 1994 bukan hanya kenangan pahit, tetapi juga pengingat agar masyarakat selalu waspada terhadap ancaman bencana alam, khususnya di kawasan rawan Merapi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....