USK Ungkap Tiga Penyebab Utama Banjir Aceh

  • 26 Des 2025 22:34 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh: Perubahan iklim menjadi salah satu faktor utama pemicu bencana banjir dan longsor yang terjadi di berbagai wilayah Aceh pada akhir tahun 2025. Peningkatan suhu global dan curah hujan ekstrem menyebabkan frekuensi serta intensitas bencana hidrometeorologi di Aceh semakin tinggi.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Syiah Kuala (USK), Ir. Suraiya Kamaruzzaman, S.T., LL.M., M.T., dalam wawancara bersama RRI, Rabu (24/12/2025). Ia menegaskan bahwa banjir yang melanda Aceh tahun ini tidak semata-mata disebabkan faktor cuaca, tetapi juga akibat kerusakan lingkungan dan buruknya pengelolaan drainase di berbagai daerah.

“Banjir di Aceh 2025 adalah hasil dari tiga faktor yang saling berkaitan: perubahan iklim, kerusakan lingkungan, dan sistem drainase yang tidak efektif,” jelas Suraiya.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan suhu udara dan curah hujan ekstrem di wilayah Aceh, yang memicu bencana banjir dan longsor. Sementara deforestasi dan alih fungsi lahan telah mengurangi kemampuan tanah dalam menyerap air, memperburuk dampak saat hujan lebat terjadi.

“Sistem drainase yang buruk juga membuat air hujan tidak mengalir dengan baik, sehingga genangan air mudah terbentuk dan menimbulkan banjir,” ujarnya.

Suraiya mengungkapkan bahwa pihaknya melalui Pusat Riset Perubahan Iklim USK telah melakukan berbagai penelitian dan kolaborasi internasional untuk memahami dampak perubahan iklim di Aceh dan merancang strategi mitigasi serta adaptasi. “Kami bekerja sama dengan Nagoya University, Jepang, dalam riset terkait perubahan iklim dan adaptasi berbasis gender,” jelasnya.

Beberapa fokus penelitian yang dilakukan antara lain mencakup dampak perubahan iklim terhadap suhu dan curah hujan ekstrem, strategi mitigasi dan adaptasi lingkungan, peran perempuan dalam ketahanan iklim, serta publikasi ilmiah yang telah diterbitkan di jurnal internasional dan buku akademik.

“Penelitian-penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dalam memahami dampak perubahan iklim sekaligus membantu pemerintah dan masyarakat menyusun kebijakan mitigasi dan adaptasi yang efektif,” kata Suraiya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk turut serta menjaga kelestarian lingkungan dengan cara mengurangi emisi gas rumah kaca, menanam kembali pohon (reboisasi), mengurangi penggunaan plastik, serta mengelola sampah dengan benar.

“Masyarakat perlu meningkatkan kesadaran tentang dampak perubahan iklim, pentingnya mitigasi, serta kesiapsiagaan menghadapi bencana alam seperti banjir dan longsor,” tutupnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....