Ini Dia Beda Tanah Longsor dan Tanah Bergerak

  • 29 Nov 2025 21:29 WIB
  •  Kediri

KBRN, Kediri: Masyarakat mengenal sejumlah fenomena gerakan tanah dengan sebutan tanah longsor. Namun ternyata tidak semuanya disebut sebagai tanah longsor. Dikutip dari Disaster Channel, longsor biasanya dikenal sebagai peristiwa runtuhnya tanah atau batuan dari lereng yang curam, sering kali terjadi secara tiba-tiba dan membawa material dalam jumlah besar ke bagian bawah lereng. Tetapi gerakan tanah dicirikan munculnya retakan-retakan pada permukaan tanah atau bangunan disekitarnya. Retakan ini bisa berkembang secara perlahan dan menjadi tanda awal bahwa tanah sedang bergerak.

Penggunaan istilah tersebut kadang membuat masyarakat salah paham, terutama saat mencoba mengenali resiko dan menentukan cara penanganannya. Sehingga penting untuk memahami perbedaan jenis-jenis gerakan tanah supaya langkah pencegahan dan penanggulangannya bisa lebih tepat dan sesuai dengan kondisi di lapangan.

Gerakan tanah merupakan salah satu proses geologi yang terjadi akibat interaksi beberapa kondisi seperti geomorfologi, struktur geologi, hidrogeologi dan tata guna lahan. Kondisi ini akan saling berpengaruh sehingga mewujudkan kondisi lereng yang cenderung bergerak. Gerakan tanah dapat pula dijelaskan sebagai perpindahan massa tanah atau batu pada arah tegak, mendatar atau miring dari kedudukan semula, gerakan tanah mencakup gerak rayapan dan aliran maupun longsoran.

Menurut Menurut Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, ada enam jenis longsor yang dibedakan berdasarkan cara atau mekanisme pergerakannya.

1. Longsoran Translasi

Jenis longsor ini terjadi ketika massa tanah dan batuan meluncur di atas bidang datar atau agak landai. Biasanya terjadi di lereng yang memiliki lapisan tanah lempung di atas batuan yang tidak tembus air. Pergerakannya cepat dan meliputi area yang luas.

2. Longsoran Rotasi

Pergerakan tanah terjadi pada bidang yang cekung, sehingga membentuk semacam lengkungan besar. Jenis ini umum terjadi di daerah dengan tanah lempung tebal. Longsor ini cenderung meninggalkan bekas seperti amblas atau amblesan yang berbentuk melingkar.

3. Pergerakan Blok

Longsor ini terjadi saat satu blok besar batuan bergerak turun secara utuh dan serempak di atas bidang yang rata. Gerakannya menyerupai longsoran translasi, tetapi material yang berpindah berupa bongkahan besar.

4. Runtuhan Batu (Rock Fall)

Jenis ini ditandai dengan batuan atau material padat yang jatuh bebas dari lereng curam. Biasanya terjadi di pegunungan atau daerah pantai berbatu. Runtuhannya cepat dan bisa sangat berbahaya jika mengenai permukiman warga atau jalan.

5. Rayapan Tanah (Soil Creep)

Jenis longsor yang paling lambat dan sering kali tidak disadari. Tanah bergerak perlahan, sehingga baru terlihat dari tanda-tanda seperti pohon atau tiang listrik yang miring. Walau tidak langsung merusak, apabila dibiarkan dapat berdampak jangka panjang pada struktur bangunan.

6. Aliran Bahan Rombakan (Debris Flow)

Terjadi ketika tanah, batu, dan air bercampur menjadi lumpur dan mengalir deras menuruni lereng dan mengikuti alur sungai. Longsor jenis ini bisa sangat cepat dan menjangkau jarak yang jauh, tergantung kemiringan lereng dan volume air yang membawa material tersebut.

Meski semua jenis ini berasal dari pergerakan tanah, tidak semua yang disebut longsor memiliki bentuk dan penyebab yang sama. Istilah tanah longsor memang populer di masyarakat, namun hanya salah satu bentuk dari gerakan tanah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....