Cerita Dibalik Suami Ceraikan Istri Jelang Pelantikan PPPK
- 22 Okt 2025 13:15 WIB
- Lhokseumawe
KBRN, Singkil: Kisah rumah tangga ibu dua anak di Aceh Singkil bernama Melda Safitri (33) kini jadi sorotan publik, usai postingannya di akun Facebook Safitri Alshop Aceh, viral.
Pasalnya, dalam unggahannya itu, Fitri sapaan akrabnya, mengutarakan kekecewaannya dan mengaitkan kehancuran rumah tangganya jelang tiga hari sebelum pelantikan dan penerimaan SK PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) sang suami.
Baca Juga: Viral! Suami Tinggalkan Istri dan Anak Setelah Lulus PPPK
Berikut kisah dibalik duduk perkara perpisahan rumah tangga Fitri yang viral itu. Kisah ini diceritakannya ketika diwawancarai salah satu media ternama di Aceh, pada Selasa (21/10/2025).
Kisahnya bertambah viral, ketika diunggah pula oleh akun Facebook Rita Sugiarti Panggabean, yang memperlihatkan momen haru saat Fitri diantar para tetangganya naik mobil L-300 dan membawa barang-barang rumah tangga menuju kampung halamannya di Aceh Selatan. Tak hanya itu, momen itu juga diposting ulang warganet ke berbagai akun media sosial hingga ke snack video dan lain-lain.
Bahkan dalam akun Facebook Rita Sugiarti Panggabean saja, Video tersebut telah ditonton lebih dari 700 ribu kali tayangan, sejak diunggah pada Minggu, 19 Oktober 2025, dengan durasi video 1 menit 30 detik. Yang membuat video itu semakin seru sebenarnya reaksi para tetangga Fitri dari Kelurahan Siti Ambia Dalam, Aceh Singkil. Dimana mereka ikut membantu memindahkan barang sembari menyemangati Fitri hingga memberikan pelukan perpisahan.
“Selamat jalan sahabat kami, Fitri. Semoga bahagia segera kau dapati,” tulis Rita dalam caption-nya.
Video tersebut kini telah disaksikan ratusan ribu pasang mata dan menuai ribuan komentar warganet yang turut bersimpati dengan nasib Fitri.
Sementara itu, dalam wawancara terbaru, Fitri mengungkapkan bahwa penyebab perceraian bermula dari pertengkaran kecil di rumah. Ketika itu, suaminya baru pulang ke rumah dan tidak menemukan lauk di meja makan. Pertengkaran ini terjadi tepat tiga hari sebelum sang suami menerima SK PPPK.
"Hari itu tanggal 14 Agustus, dia pulang kerja, sudah sore, terus dia marah-marah gitu, tidak ada kawan nasi (lauk) di rumah. Karena bagaimana saya harus masak nasi atau kawan nasi sedangkan apa pun tidak ada di rumah," ujar Fitri dengan suara bergetar.
Suami Fitri terus berlanjut marah dan mengeluarkan kata-kata kasar hingga dinilai melukai harga dirinya. Malam itu juga, suami Fitri pergi bersama rekannya hingga pulang larut malam. Amarah suami Fitri terus berlanjut hingga keesokan harinya.
Karena kesal, Fitri lantas membalas ucapan suami yang dinilai menyakitkan hatinya hingga terjadi ribut besar.
"Saya balas-lah repetan dia, kamu mau apa, kesalahanku apa, saya bilang. 'Kamu kan tidak bawa belanja, tidak ada kasih (nafkah) apa-apa, jadi apa yang saya masak?' Jadi dia memancing emosi saya terus, dipancing-dipancing sama dia, terus saya merepet sama dia. Setelah itu, saya pergi cuci piring karena capek ribut terus," ungkapnya.
Saat Fitri mencuci piring, ternyata suaminya sudah membungkus baju lalu pergi ke rumah tetangga untuk meminjam sepeda motor. Saat kembali ke rumah, sang suami langsung mengucapkan kata cerai di hari itu juga.
"Dia langsung bilang ke saya, kamu Fitri saya ceraikan 1, 2, 3 lalu dia pergi membawa bajunya," ungkap Fitri.
Tiga hari setelah peristiwa itu, tepat pada 18 Agustus, sang suami dilantik menjadi PPPK. Fitri menegaskan, suaminya menceraikan dirinya bukan semata karena pertengkaran rumah tangga, melainkan karena sang suami akan dilantik menjadi PPPK.
“Dia ceraikan saya karena mau jabatan. Padahal kami dulu berjuang bersama. Saya sempat berharap, setelah dia dilantik jadi PPPK, bisa sedikit membantu perekonomian keluarga,” ujar Fitri.
Namun, lanjutnya, harapan itu justru pupus. “Begitu dikasih Allah rezeki, dia malah ceraikan saya. Kalau memang mau cerai, kenapa tidak dari dulu,” tuturnya dengan nada kecewa.
Fitri bahkan mengaku sudah sejak jauh hari membantu menyiapkan pakaian dan atribut Korpri untuk pelantikan suaminya sebagai PPPK. Semua perlengkapan itu dibeli dari hasil ia berjualan cabai dan sayuran di pasar.
“Baju pelantikan itu saya yang belikan dari hasil jualan. Dia yang pesan di Shopee tapi saya yang disuruh bayar, ya uangnya dari hasil jual gorengan. Saya bantu dia dari nol, dari belum kerja sampai bisa lulus PPPK. Tapi justru saya ditinggal sebelum dia menerima SK,” tutur Fitri lirih.
Dua bulan pasca diceraikan secara lisan, hingga Oktober ini Fitri mengaku bertahan dari hasil jualan gorengan dan minuman seribu rupiah di depan rumahnya.
Dari hasil tersebut dia juga mampu menghidupi kedua anaknya yang masih kecil. Selama masa itu pula, Fitri dan suaminya telah melakukan mediasi disaksikan kedua orang tua dan pihak Kepala Desa, namun sang suami tetap bersikeras untuk menceraikannya.
Selama masa itu pula, Fitri dan suaminya telah melakukan mediasi disaksikan kedua orang tua dan pihak Kepala Desa, namun sang suami tetap bersikeras untuk menceraikannya.
"Bahkan katanya dia mau menceraikan saya sejak lama, tapi dulu posisi saya masih hamil dan saya baru tahu waktu mediasi," ungkap Fitri.
Jauh sebelum ini, Fitri mengungkap jika dulu pernikahannya memang sempat tidak direstui oleh ibu mertua. Bahkan setelah mereka menikah pada tahun 2020, mertua sering ikut campur.
"Sampai dulu suami saya itu pernah bantu saya cuci piring, pernah bantu saya menyuci. Itu dia bicarakan ke orang-orang. Seperti seorang tua tadi dia bicarakan ke tetangga-tetangga dia.
Dia bilang anak saya dibubudak-budak oleh dia, sama tetangga-tetangga. Dia suruh perempuan bantu. Awalnya saya diam, tapi lama-lama saya diinjak," timpalnya.
Saat ini, Fitri mengaku sangat kecewa. Bahkan ia bersikeras tidak ingin kembali jika suatu waktu suaminya memintanya kembali.
(Tulisan ini juga tayang di aceh.tribunnews.com)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....