Waspada, Ancaman Krisis Air Intai Papua
- 15 Mar 2023 06:45 WIB
- Jayapura
KBRN, Jayapura : Ancaman krisis air mengintai Papua terutama di Kota Jayapura. Perilaku oknum warga yang merusak daerah resapan air jadi pemicu utama.
Kepala Satpol PP dan Penanggulangan Bencana Daerah Papua, Welliam R Manderi mengungkapkan, warga yang kesulitan mendapatkan air jadi pertanda potensi krisis air.
“Sekarang kan warga mendapatkan layanan air bersih dari PDAM hanya dua sampai tiga kali per minggu saja. Ini jadi tanda bahwa debit air sudah sangat menurun,” kata Manderi, Rabu (15/3/2023).
Menurut Manderi, kondisi tersebut tentu saja disebabkan daerah resapan air di kawasan sumber air yang sudah rusak karena perilaku oknum masyarakat.
“Karena hutan ini ditebang sembarang dan beralihfungsi makanya daerah resapan jadi berkurang. Dengan begitu air tidak terserap tapi langsung mengalir sampai ke laut,” jelasnya.
Oleh sebab itu, Ia berharap semua pihak terutama masyarakat untuk menjaga alam dan lingkungannya sehingga terhindar dari hal-hal yang tak diingingkan seperti bencana kekeringan.
“Kalau kita tidak menjaga ini, bisa kekurangan air dan itu menyebabkan bencana bagi kita. Begitu terjadi hujan lebat bisa juga menyebabkan longsor dan lain-lain,” tegasnya.
Manderi pun menyatakan akan terus berupaya mengedukasi masyarakat karena tanggungjawab menjaga alam bukan saja ada pada pemerintah.
“Masyarakat juga jangan malas tahu dengan hal ini. Nanti ketika terjadi bencana, lalu salahkan pemerintah,” ucap dia.
Sementara itu, salah satu petugas evaluasi di Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Memberamo, Esron KP. Pakpahan mengakui, kondisi sumber air di kawasan gunung Cycloop mengalami pengurangan debit air.
“Hal ini dikarenakan adanya gangguan baik secara alam maupun perilaku manusia. Ada kegiatan pembukaan lahan oleh oknum warga bahkan dengan cara membakar sehingga menyebabkan vegetasi yang lain juga rusak,” jelasya.
Pihaknya sendiri, kata Esron, terus bekerja keras melakukan pemulihan ekosistem di area hulu sebagai daerah penangkap air bersama pihak terkait lainnya. Salah satunya dengan menanam tanaman bambu yang bersifat konservasi dan cepat tumbuh.
“Tanaman bambu ini mempunyai daya serap air tanah yang lebih cepat dibandingkan tanaman lainnya. Tapi kami juga tanam beberapa jenis bibit pohon lainnya seperti pohon soang, rambutan, matoa, kayu besi untuk memperkuat tekstur tanah dan membuat area resapan,” tandasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....