Polisi Bagi Tiga Klaster Korban Reruntuhan Pesantren Al-Khoziny
- 03 Okt 2025 16:07 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Surabaya: Polisi membagi tiga klaster pendataan korban reruntuhan mushala Pondok Pesantren Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo. Yaitu, yaitu kluster santri, pengurus pesantren, dan pekerja pembangunan.
Demikian disampaikan Kapolda Jawa Timur Inspektur Jenderal Polisi Nanang Avianto di Mapolda Jatim, Surabaya, Jumat (3/10/2025). Ia menyebut, hal ini dilakukan setelah melihat perkembangan yang didata di posko.
“Kita bagi dalam tiga klaster yang pertama adalah jumlah santrinya, kedua pengurus pesantren. Dan yang ke-3 adalah pekerja, yang melakukan pembangunan pesantren itu,” kata Nanang.
Menurutnya, pengelompokan tersebut penting agar petugas mudah melacak keberadaan penghuni yang sebelumnya tercatat saat bangunan runtuh. Dari hasil pendataan awal, sebagian besar baru mencakup santri dan pengurus.
Sedangkan pekerja masih terus diidentifikasi. Ia mengatakan, meski pendataan dilakukan, prioritas utama sejak awal tetap pada penyelamatan korban.
"Tahapan kemarin di awal adalah kita mengutamakan pertolongan kepada korban dulu. Sambil pendataan," katanya.
Nanang menambahkan, setelah masa golden time berakhir, proses evakuasi difokuskan pada pembersihan material. Tim gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, Pemadam Kebakaran (Damkar), serta relawan terus dikerahkan untuk pencarian korban.
“Supaya tidak ada terganggu dengan melihat dari kemungkinan jumlah yang ada, kita pusatkan di sini di Rumah Sakit Bhayangkara dan ini sudah kita persiapkan mulai dari peralatan dan kemudian dari tim medisnya,” ucap Kapolda.
Jenderal bintang dua itu menyebut, hingga kini masih ada sekitar 58 orang yang belum diketahui keberadaannya. Ambruknya mushala ponpes tersebut masih terus diselidiki.
“Kemarin terdata, masih ada 58 kalau enggak salah yang belum diketahui keberadaannya. Dan ini pun juga bertahap menemukan kurang lebih ada berapa dari lima ya, ada tambahan lima,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....