Galeri Ming Merah, Bertahan di Tengah Gempuran Zaman

  • 03 Sep 2025 09:15 WIB
  •  Bengkulu

KBRN, Bengkulu: Sejak pandemi Covid-19, penjualan di Galery Ming Merah, toko barang antik tertua di Bengkulu, mengalami penurunan drastis. Roli (43), pengelola generasi kedua, mengatakan penghasilan dari penjualan barang antik kini sulit mencukupi kebutuhan sehari-hari. "Kalau untuk mencukupi sih kayaknya sekarang benar-benar sulit, kalau lagi ada pembeli dia ada, tapi kalau tidak bisa berbulan-bulan bahkan sampai satu tahun tanpa penjualan," ucapnya.

Galery Ming Merah telah berdiri sejak 1990-an dan bertahan lebih dari 35 tahun. Toko ini dikenal karena menjual barang antik ke berbagai kota di Indonesia, seperti Palembang, Jakarta, dan Bogor, bahkan sampai mancanegara.

Koleksi yang dijajakan cukup beragam, mulai dari guci, alat elektronik lawas, piring Eropa, senjata zaman dahulu, hingga koin lama. Harga barang antik di toko ini bervariasi, dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung pada jenis, umur, dan nilai sejarah dari barang tersebut.

Usaha ini pertama kali dirintis oleh almarhum Hermansyah. Nama “Ming Merah” diberikan saat Hermansyah mendapatkan sebuah piring tua berukuran besar peninggalan Tiongkok yang kemudian menjadi identitas toko. Setelah Hermansyah meninggal dunia, usaha ini diteruskan oleh putrinya, Roli.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Roli juga membuka usaha makanan sederhana seperti soto, nasi goreng, dan mi instan. "Karena disamping itu ngga ada penjualan makanya ibu jualan sambil berdagang makanan, karenakan ibuk adalah orang tua tunggal dan harus menyekolahkan anak," tambahnya.

Galery Ming Merah berlokasi di belakang Benteng Marlborough, Kelurahan Kebun Keling, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu. Toko ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 21.00 WIB. (Era Purwanti)

Audio
Putar Audio

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....