Penetapan Sejarah Islam Masuk Papua Butuh Puluhan Tahun
- 08 Agt 2025 15:48 WIB
- Fak Fak
KBRN, Fakfak : Ketua Panitia Peringatan 665 Tahun Masuknya Islam di Papua, Taufiq Heru Uswanas, mengungkapkan perjalanan menentukan sejarah masuknya Islam di Papua memakan waktu yang sangat panjang. Selama lebih dari 30 hingga 40 tahun, berbagai pihak memperdebatkan waktu dan tempat awal masuknya Islam, namun tidak pernah ada kesepakatan yang bulat.
Perbedaan pandangan antar keluarga dan tokoh masyarakat menjadi tantangan tersendiri dalam upaya tersebut.
“Saya dulu hanya seorang notulen dalam forum-forum pembahasan sejarah Islam di Papua, tapi saya melihat langsung bagaimana diskusi-diskusi itu sering buntu karena adanya ego masing-masing pihak yang ingin mempertahankan versi mereka,” kata Taufiq Heru Uswanas, Jumat (8/8/2025).
Menurutnya, meskipun banyak kendala, akhirnya pada awal tahun 2025 tercapai satu kesepakatan penting yakni penetapan Islam telah masuk ke Tanah Papua sejak 665 tahun lalu. Kesepakatan ini dianggap sebagai tonggak sejarah penting yang memberikan kejelasan identitas dan jati diri umat Islam Papua dalam konteks sejarah nasional Indonesia.
“Kesepakatan ini bukan hanya tentang angka, tapi tentang pengakuan dan peneguhan bahwa orang Papua adalah bagian dari sejarah besar Islam di Nusantara,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya rasa syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayah yang telah menuntun masyarakat Papua menjadi bagian dari umat Islam yang damai dan beradab.
Taufiq Heru Uswanas menjelaskan peringatan untukbpertama kali ini dilaksanakan dalam dua zona, salah satunya di Pulau Was. Ia menyebut Pulau Was sebagai tempat yang sangat bersejarah karena diyakini menjadi salah satu titik awal dakwah Islam yang dibawa oleh para syekh dari luar.
Dari sisi pendanaan, kegiatan ini diselenggarakan berkat gotong royong berbagai pihak.
“Kami mendapatkan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Fakfak, Majelis Ulama Indonesia Provinsi Papua Barat, serta sumbangan sukarela dari masyarakat,” kata Taufiq.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat, baik Muslim maupun Nasrani, yang turut membantu dan menyukseskan acara tersebut.
Meski demikian, Taufiq menyadari peringatan ini belum sempurna. Ia pun meminta maaf atas berbagai kekurangan dalam pelaksanaan kegiatan, mengingat ini merupakan perayaan pertama setelah adanya penetapan tahun masuknya Islam di Papua secara resmi.
“Kami panitia hanyalah manusia biasa. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT,” katanya merendah.
Ia juga menyampaikan permintaan maaf secara khusus kepada pihak-pihak yang mungkin merasa tersinggung selama proses penentuan sejarah ini.
“Kalau ada yang merasa tidak nyaman, terutama keluarga besar yang merasa versi sejarahnya berbeda, saya secara pribadi dan sebagai ketua panitia memohon maaf sebesar-besarnya,” tuturnya.
Taufiq menutup sambutannya dengan doa dan harapan agar kegiatan ini membawa berkah bagi umat Islam di Papua dan memperkuat persatuan masyarakat.
“Semoga Allah SWT mengampuni segala kekurangan kita dan menjadikan peringatan ini sebagai jalan penguatan iman, sejarah, dan jati diri umat Islam Papua,” tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....