Literasi Membaca Di Papua Masih Rendah
- 22 Jun 2025 03:58 WIB
- Jayapura
KBRN. Jayapura: Literasi Indonesia berada pada urutan 74 dari 79 atau enam peringkat dari bawah, di dunia. Sebagaimana dikutip dari Refleksi Hasil PISA (The Programme For International Student Assessment) Tahun 2020.
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih, Rostini Anwar., S.I.Kom., M.I.Kom, menilai dalam beberapa studi kasus di Papua, secara khusus Kota Jayapura, telah ditemukan ada beberapa siswa siswi, mahasiswa mahasiswi dan orang tua belum lancar membaca.
"Mereka dapat membaca tetapi tidak memahami dalam hal titik koma tanda tanya dan lain sebagainya. Ini kemudian menjadi urgensi dalam penelitian ini," kata Rostini.
Dalam study kasusnya, Rostini mengatakan ada beberapa orang tua yang putus sekolah karena berbagai faktor, seperti kurangnya dukungan dan peran pemerintah. Kesadaran yang kurang akan pentingnya penerapan membaca dalam kehidupan dan beragam faktor lainnya. Menyebabkan banyak orang tua yang pernah mengalami putus sekolah dan sangat banyak yang hanya mengalami pendidikan sebatas sekolah dasar (SD).
"Maka, diperlukan lah pengembangan literasi yang lebih lanjut dan tidak terbatas secara internal saja atau di dalam sekolah saja, terutama di Papua," ujarnya.
Riset Kemendikbud di 34 provinsi pada 2023 pun menunjukkan, aktivitas literasi baca-tulis masyarakat masih rendah. Terkhusus wilayah Indonesia Timur di daerah Papua tepatnya di Jayapura memiliki literasi yang minim dan rendah yang masih tertinggal jauh dari kota-kota lainnya.
Sebagai contoh dari pengamatan Rostini sebagai penulis di lapangan, terdapat sekitar 50 murid SD Sabron Sari, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura, belum bisa membaca dengan benar. Dari 184 murid, setengahnya yang belum bisa membaca berada pada kelas awal yakni kelas satu, dua, dan tiga. Hal ini menjadi perhatian besar karena masih banyak permasalahan serupa yang dapat ditemui terutama di daerah Papua terkait literasi khususnya literasi membaca.
Literasi adalah kemampuan manusia dalam melakukan kegiatan membaca, menulis hingga berpikir kritis. Sehingga pentingnya literasi di masyarakat perlu ditingkatkan, untuk itu budaya literasi perlu diterapkan dalam diri setiap individu. Bagi masyarakat yang telah mengalami putus sekolah, dapat dilakukan dengan berkunjung ke perpustakaan untuk menimbah pengetahuan serta meningkatkan literasi membaca.
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan memberikan definisi tentang perpustakaan umum sebagai perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status sosial-ekonomi. Undang-undang ini juga menegaskan bahwa pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat wajib membangun literasi untuk meningkatkan minat baca dan menulis serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Dalam hal ini, Perpustakaan di Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Provinsi Papua memiliki tantangan untuk meningkatkan literasi baca yang baik di masyarakat. Penulis merekomendasikan berbagai strategi dalam meningkatkan minta baca bagi perpustakaan tersebut.
Menurut Rostini, ada beberapa strategi yang bisa dilakukan dengan meningkatkan berbagai kunjungan dan kerjasama dengan berbagai jaringan perpustakaan baik perpustakaan sekolah hingga perpustakaan perguruan tinggi dan instansi dibidang pendidikan. Selain itu perpusda perlu melakukan upaya peningkatan sarana dan prasarana guna memberikan kenyamanan bagi pemustaka yang berkunjung.
Dalam observasinya, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih, ini melihat berbagai faktor penghambat bagi pustakawan dalam meningkatkan literasi baca di Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Provinsi Papua. Yaitu dalam segi anggaran yang masih minim sehingga kegiatan pembinaan literasi baca masih kurang maksimal.
"Hasil wawancara saya dengan beberapa pustakawan di perpustakaan, mengakui bahwa anggaran dana dalam meningkatkan literasi baca sangat berpengaruh dan sangat penting dalam hal peningkatan kualitas koleksi perpustakaan dan dalam peningkatkan kegiatan-kegiatan produktif dalam peningkatan literasi baca." Ucap Rostini
Dari hasil pengamatannya, kata Rostini terdapat beberapa item yang kiranya perlu menjadi masukan perbaikan baik dari segi sarana dan prasarana seperti kualitas ruang baca dalam segi pencahayaan, ruang koleksi, ruang referensi dan berbagai peningkatan sarana prasarana lainnya, guna meningkatkan literasi baca masyarakat di Papua khususnya untuk berkunjung ke Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Provinsi Papua.
Penulis : Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih, Rostini Anwar., S.I.Kom., M.I.Kom
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....