Gogok Palembang yang Berganti Nama

  • 29 Mei 2025 03:02 WIB
  •  Palembang

KBRN, Palembang: Pada masa lalu, kampung-kampung di Palembang dikenal dengan nama gogok atau gogoan. Bagi wong lamo atau wong bingen (generasi lama), istilah gogok mungkin sudah tidak asing lagi. Bahkan hingga sekarang, masih ada yang bertanya, “Kau dari gogoan mano?” Lalu, sebenarnya apa itu gogok?

Mang Dayat, seorang kreator konten dan Ketua Asosiasi Kreator Konten Seluruh Indonesia (AKKSI) Sumsel, menjelaskan bahwa gogok pada dasarnya adalah sistem pemerintahan terkecil di masa Kesultanan Palembang. Istilah ini mulai tidak terdengar lagi karena pada masa kolonialisme, Belanda mengubah gogok menjadi sistem kelurahan seperti Satu Ilir, Dua Ilir, dan Tiga Ilir.

“Sebenarnya, gogok berawal dari masa Sriwijaya. Cikal bakalnya adalah marga-marga yang kini kita kenal. Marga-marga ini kemudian berkembang menjadi gogok-gogok di wilayah pusat kota Palembang pada masa Kesultanan,” ujar Mang Dayat dalam obrolan bersama RRI, (Rabu, 28/5/2025).

Berbagai wilayah gogok memiliki penamaan yang unik karena kekhasan dan keberagaman di dalam kampung itu sendiri. Ada gogok yang dinamai berdasarkan pekerjaan, asal daerah, atau jabatan tertentu. Setiap gogok atau wilayah di Palembang menyimpan cerita menarik dari masa lalu.

“Sebagai wong Palembang, penting bagi kita untuk lebih mengenal gogok. Gogok membantu kita mengetahui asal muasal diri dan sangat erat kaitannya dengan sejarah lokasi tempat tinggal kita,” jelas Mang Dayat.

Pada masa Kesultanan Palembang, setiap wilayah di kota Palembang pasti memiliki gogok. Penamaan wilayah di luar kota Palembang berbeda. Wilayah Palembang dulu dan sekarang juga mengalami perbedaan. Kampung atau wilayah di kota Palembang yang kini memiliki nomor dari ulu dan ilir sebenarnya menyimpan sejarah yang perlu digali dan dikenalkan kepada generasi sekarang.

Gogok sangat identik dengan nuansa Kesultanan Palembang. Dulu, gogok dipimpin oleh Kepala gogok yang berasal dari kesultanan. Gogoan juga berfungsi menghidupi kawasan dengan pengumpulan pajak untuk kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut.

Namun, pada masa Belanda, nuansa Kesultanan mulai menghilang, dan nama gogok diubah menjadi kampung. Perubahan ini pelan-pelan meruntuhkan adat budaya di daerah-daerah tersebut.

“Misalnya, Guguk Pelembang Lamo diganti namanya menjadi Satu Ilir, dan kepalanya diubah menjadi Kepala Kampung (nama Lurah di masa sekarang) yang ditunjuk oleh Belanda. Ini menjadi salah satu cara untuk menghilangkan kesan dari Kesultanan Palembang,” ujar Mang Dayat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....