Sarah Aurelia Saragih, Dari Konseling ke Panggung Advokasi

  • 08 Apr 2025 12:34 WIB
  •  Pekanbaru

KBRN, Pekanbaru: Menjadi seorang perempuan, tidak boleh hanya dikenal dari kecantikan saja, tetapi juga kepintaran, keberanian menyurakan isu dan kebiasaanya yang berdampak.

Beauty, Brain and Behavior jadi jargon yang layaknya diberikan kepada semua perempuan modern, yang mampu tampil anggun namun tetap bisa berpikir dan beraksi. Sarah Aurelia Saragih, M.Psi., Psikolog adalah perempuan yang mencerminkan hal itu sejalan dengan gelar Puteri Indonesia Riau 2025.

Dalam obrolan Sore Ceria Pro 2 RRI Pekanbaru, Sarah menyimpan misi besar untuk anak-anak dan remaja terutama yang berkebutuhan khusus dalam ketertarikannya sebagai seorang Psikolog Klinis sekaligus Puteri Indonesia Riau 2025. Keikutsertaannya dalam ajang kecantikan bukan semata mengejar mahkota, tapi juga membuka ruang advokasi yang lebih luas.

“Saya merasa praktik di ruang konseling itu belum cukup. Saya butuh platform yang lebih besar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan mental anak dan remaja, khususnya anak berkebutuhan khusus,” ujar Sarah, Senin (7/4/2025).

Kecintaan Sarah pada dunia anak dan remaja membawanya pada profesi sebagai psikolog klinis yang kini aktif di dua rumah sakit di Pekanbaru. Meski Puteri Indonesia merupakan ajang pegeant pertamanya, Sarah tidak asing dengan kompetisi. Ia pernah terlibat di lomba debat, FLS2N, hingga berbagai praktik keilmuan.

“Waktu itu sahabat-sahabat menyarankan untuk ikut ajang ini, karena cerita dan latar belakangku berbeda. Awalnya ragu, tapi akhirnya aku coba,” ceritanya.

Sering menjadi bahan perbincangan tentang dunia Pegeant, Sarah membagikan pandangannya tentang ajang Puteri Indonesia ini. Bagi Sarah, ajang Puteri Indonesia bukan sekadar soal penampilan. Justru ia melihat adanya peluang untuk membawa dampak nyata dari platform ini.

“Puteri Indonesia itu bukan cuma soal beauty, tapi juga advokasi dan kontribusi kita sebagai perempuan untuk daerah,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa justru dalam proses kompetisi, kemampuan berpikir kritis tetap menjadi aspek penting, bukan hanya tampilan luar semata.

Dengan banyak wanita dari berbagai latar belakang profesi dan advokasi berbeda, di Ajang ini membuatnya yakin bahwa perannya sebagai psikolog bisa memiliki wadah yang lebih luas di ajang ini. Apalagi, Yayasan Puteri Indonesia memiliki banyak kerja sama dengan pemerintah dan berbagai sektor.

“Di situ saya melihat potensi kolaborasi yang besar, dan saya ingin ada di dalamnya untuk mendorong isu-isu yang selama ini saya suarakan,” kata Sarah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....