Perubahan Iklim Berdampak pada Bencana Alam di Aceh
- 07 Feb 2025 19:07 WIB
- Banda Aceh
KBRN, Banda Aceh: Perubahan iklim semakin nyata dirasakan di Aceh, ditandai dengan meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda Aceh Besar, Nasrol Aidil, S.Si, MTKepala Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda Aceh Besar, Nasrol Aidil, S.Si, MT, dalam talkshow RRI Banda Aceh yang bertajuk "Perubahan Iklim dan Dampaknya Terhadap Frekuensi Bencana di Aceh," yang berlangsung pada Kamis (6/2/2025).
Nasrol Aidil menjelaskan bahwa suhu global terus mengalami peningkatan, dengan suhu rata-rata bumi mencapai 1,48 derajat Celsius pada tahun 2023. Aceh sendiri mengalami kenaikan suhu yang signifikan, yakni sekitar 1,9 derajat Celsius sejak tahun 2000. “Dampak dari kenaikan suhu ini adalah meningkatnya intensitas hujan ekstrem, yang berkontribusi terhadap bencana banjir dalam beberapa tahun terakhir,” ungkapnya.
BMKG Aceh terus melakukan pemantauan cuaca dan memberikan peringatan dini melalui berbagai platform, termasuk media sosial. Nasrol Aidil menekankan bahwa pemahaman masyarakat terhadap prediksi cuaca dan pola iklim sangat penting dalam upaya mitigasi bencana. “Kami mengajak seluruh masyarakat untuk lebih waspada terhadap informasi peringatan dini yang dikeluarkan BMKG guna mengurangi risiko bencana akibat perubahan iklim,” sebut Nasrol.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda Aceh Besar, Nasrol Aidil, S.Si, MT dan Dr. Saumi Syahreza, Ketua Departemen Fisika FMIPA Universitas Syiah Kuala (USK) sekaligus Ketua Divisi Penelitian Mitigasi Bencana Hidrometeorologi dan Perubahan Iklim di Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK, saat menjadi Narasumber di RRI Banda Aceh, Pada Kamis (6/2). Foto : RRI/Lis.
Dalam kesempatan yang sama, Dr. Saumi Syahreza, Ketua Departemen Fisika FMIPA Universitas Syiah Kuala (USK) sekaligus Ketua Divisi Penelitian Mitigasi Bencana Hidrometeorologi dan Perubahan Iklim di Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) USK, menyoroti peran faktor alam dan aktivitas manusia dalam memperburuk dampak perubahan iklim. “Deforestasi dan perubahan tata guna lahan yang tidak terkendali telah mempercepat aliran air ke daerah hilir, sehingga meningkatkan risiko banjir bandang,” jelas Dr. Saumi.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa peningkatan kejadian kebakaran hutan dan lahan di Aceh juga berkaitan dengan kenaikan suhu yang memicu kondisi lebih kering. “Banyak wilayah yang sebelumnya memiliki curah hujan stabil kini mengalami fluktuasi ekstrem, baik dalam bentuk hujan berlebih maupun periode kemarau yang panjang,” tambahnya.
Para ahli sepakat bahwa langkah mitigasi, seperti moratorium deforestasi, rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS), dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, harus menjadi prioritas untuk mengurangi dampak perubahan iklim di Aceh. Dengan upaya kolektif dari pemerintah, akademisi, dan masyarakat, diharapkan risiko bencana dapat diminimalisir demi keberlanjutan lingkungan dan keselamatan masyarakat Aceh.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....