Cato Rimueng, Permainan Tradisional di Aceh yang Semakin Dilupakan

  • 17 Des 2024 10:58 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh : Cato Rimueng, yang juga dikenal dengan nama Catur Harimau, adalah permainan yang sering dimainkan pada waktu luang di desa-desa di Aceh pada masa lalu, permainan ini bahkan pernah digunakan oleh pihak Belanda dalam usaha memburu Pahlawan Nasional, Teuku Umar. Bagi generasi 90-an, permainan ini tentunya sudah tidak asing lagi, karena di masa itu, permainan tradisional seperti Cato Rimueng sering menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu bersama teman-teman.

Mengutip laman museum.kemdikbud.go.id, Catoe Rimueng merupakan permainan tradisional tradisional Aceh dengan pola garis lintang, bujur dan miring dibuat di atas papan kecil atau tripleks. Bidaknya hanya batu atau rumah keong yang berwarna hitam dan putih.

Pemainnya dua orang, satu memegang bidak harimau dengan warna hitam dan satu lagi menggunakan bidak kambing dengan warna putih. Cato Rimueng pernah dipakai Kolonial Belanda di Aceh sebagai taktik perang dalam menangkap Teuku Umar.

Harimau hanya dua, kambing banyak. Dalam permainan, harimau berhak melompati kepungan kambing yang berusaha menutupi jalannya. Melompat bisa ke kiri, kanan maupun miring ke segala arah, dengan syarat bidak penutupnya harus ganjil, satu-tiga-lima dan seterusnya.

Dalam permainan ini, terdapat dua harimau dan sejumlah kambing, harimau memiliki kemampuan untuk melompati kepungan kambing yang berusaha menghalangi jalannya. Loncatannya bisa dilakukan ke kiri, kanan, atau miring ke segala arah, dengan syarat jumlah kambing yang menghalangi harus ganjil, seperti satu, tiga, lima, dan seterusnya.

Jika harimau dapat memakan semua kambing yang berada dalam jalur lompatan yang diperbolehkan, maka harimau akan dinyatakan sebagai pemenang permainan. Sebaliknya, jika kambing berhasil menutup dan menghalangi setiap langkah harimau sehingga ia tidak bisa melompat lagi, maka kambing akan keluar sebagai pemenang.

Permainan tradisional di Aceh memiliki nilai budaya yang sangat penting, namun sayangnya, semakin sedikit yang tertarik memainkannya. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kemajuan teknologi hingga perubahan gaya hidup.

Oleh karena itu, perlu adanya upaya bersama dari pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk melestarikan permainan tradisional, sehingga generasi muda Aceh tidak hanya mewarisi budaya melalui cerita, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang berharga. Dengan langkah-langkah yang tepat, permainan tradisional Aceh bisa kembali hidup dan diterima dengan penuh semangat oleh generasi mendatang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....