Wuku dan Neptu, Ilmu Astrologi Dalam Kalender Jawa

  • 11 Des 2024 09:30 WIB
  •  Yogyakarta

BRN, Yogyakarta: Dalam penanggalan Jawa, dikenal periode waktu yang dianggap menentukan watak dari anak yang dilahirkan seperti halnya pada astrologi yang terkait dengan kalender Masehi. Periode ini disebut Wuku dan ilmu perhitungannya disebut sebagai Pawukon.

Mengutip dari laman resmi Kraton Jogja menyebutkan bahwa ada 30 Wuku yang masing-masing memiliki umur 7 hari. Dengan demikian dalam satu siklus Wuku memiliki umur 210 hari yang disebut Dapur Wuku.

Selain Wuku, terdapat juga Neptu yang digunakan untuk melihat nilai dari suatu hari. Ada dua macam Neptu, yaitu Neptu Dina dan Neptu Pasaran. Neptu Dina adalah angka yang digunakan untuk menandai nilai hari-hari pada saptawara, sedang Neptu Pasaran digunakan untuk menandai nilai hari-hari pada pancawara.

Nilai-nilai ini biasa digunakan untuk menghitung baik buruknya hari terkait kegiatan tertentu. Selain itu juga untuk melihat perwatakan seseorang yang lahir pada hari tersebut.

Kalender Sultan Agungan dimulai pada Jumat Legi tanggal 1 Sura tahun Alip 1555 J, atau 1 Muharram 1043 H, atau 8 Juli 1633. Peristiwa ini terdapat pada Windu Kuntara Lambang Kulawu dan ditandai dengan candra sengkala yang berbunyi “Jemparingen Buta Galak Iku” (Panahlah raksasa buas itu).

Sejak saat itu, Kerajaan Mataram dan penerusnya mampu menyelenggarakan perayaan-perayaan adat seirama dengan hari-hari besar Islam. Upacara-upacara tradisi seperti Garebeg tidak menjadi halangan bagi perkembangan Islam, namun malah dimanfaatkan sebagai syiar agama itu sendiri.

Sistem penanggalan baru ini merupakan upaya seorang pemimpin yang berpandangan jauh ke depan untuk menggabungan dua arus peradaban pada masa itu, sebuah rekonsiliasi antara gelombang kebudayaan Islam dengan peradaban pra Islam. Peradaban baru yang kini dikenal sebagai Mataram Islam. (semi)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....