PASPI Perkenalkan Industri Kelapa Sawit Melalui Seminar
- 24 Nov 2024 08:33 WIB
- Banda Aceh
KBRN,Banda Aceh : Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) memperkenalkan industri kelapa sawit melalui seminar bedah buku yang bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (HIMASEP), serta didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Acara ini diadakan di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, dan bertujuan untuk memberikan wawasan lebih dalam tentang sawit, baik dari sisi ekonomi, keberlanjutan, hingga manfaat sosialnya, (23/11/2024).
Dalam seminar yang diadakan di gedung aula MPR fakultas pertanian ini, Dr. Ir. Tungkot Sipayung, penulis buku yang menjadi fokus dalam acara tersebut, memaparkan sejarah perkembangan kelapa sawit di Indonesia. Menurut Dr. Sipayung, kelapa sawit pertama kali dikembangkan di Aceh, yang kemudian berperan sebagai "guru" dalam penyebaran pengetahuan mengenai tanaman ini. Ia juga menegaskan bahwa sawit tidak dapat tumbuh di Eropa dan sejak 2006, minyak sawit telah mendominasi pasar minyak dunia. Produktivitas kelapa sawit yang sepuluh kali lebih tinggi dibandingkan minyak nabati lainnya menjadikannya pilihan yang lebih kompetitif dan berkelanjutan secara empiris.
Pada sesi berikutnya, Dr. T. Saiful Bahri, S.P., M.P., sebagai pembahas pertama, mengungkapkan fakta menarik terkait pengelolaan produksi minyak sawit di Indonesia. Sekitar 40% produksi dikelola oleh petani kecil, sementara 60% dikuasai oleh perusahaan besar. Pabrik CPO pertama kali dibangun di Sungai Liput, Aceh Tamiang, dan lebih dari 65% produksi CPO Indonesia dikuasai oleh pihak asing.
Dr. Aliasuddin, S.E., M.Si, pembahas kedua, menyampaikan paparan mengenai pertumbuhan pesat sektor kelapa sawit dalam perekonomian Indonesia. Ia mencatat bahwa industri sawit merupakan sektor yang paling cepat berkembang dan menjadi sumber devisa yang signifikan, membantu mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Eti Indarti, M.Sc., sebagai pembahas ketiga, menyoroti berbagai manfaat nutrisi yang terkandung dalam produk kelapa sawit. Menurutnya, minyak kelapa sawit memiliki keunggulan dalam ketahanan pangan karena kaya akan nutrisi. Ia juga menjelaskan mengenai perbedaan antara minyak jenuh dan minyak tidak jenuh yang digunakan dalam proses penggorengan, serta potensi bahaya minyak tidak jenuh yang lebih sering digunakan.
Acara ini turut dihadiri oleh Dekan Fakultas Pertanian USK, Prof. Ir. Sugianto, M.Sc., Ph.D., yang berharap seminar ini dapat memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai isu-isu kelapa sawit, baik bagi mahasiswa, dosen, maupun praktisi di bidang pertanian. "Kami berharap acara ini dapat memperkaya pengetahuan dan diskusi tentang kelapa sawit yang menjadi isu penting dalam sektor pertanian dan ekonomi nasional," ungkapnya.
Selain presentasi dari para narasumber, seminar ini juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk berdiskusi melalui sesi tanya jawab interaktif. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, mulai dari kandungan kelapa sawit hingga dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh industri ini.
Hadir pula perwakilan dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Aceh, termasuk bapak Nurfuadi, bapak Raja Utama, dan bapak Adam Juliandika, serta dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Aceh, seperti bapak Mawardi, bapak Zubir Sahim, dan bapak Fakhri. Perwakilan APKASINDO berharap agar Universitas Syiah Kuala terus menyuarakan isu-isu kelapa sawit di masa depan.
Dengan adanya acara ini, diharapkan para mahasiswa dan praktisi dapat lebih memahami tantangan dan potensi yang ada dalam industri kelapa sawit, serta pentingnya peran sektor ini dalam mendukung ekonomi Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....