Mudik Lebaran 2026: Jangan Hanya Bertumpu pada Jalan Tol
- 19 Feb 2026 14:35 WIB
- Cirebon
RRI.CO.ID, Cirebon - Menghadapi mudik Lebaran 2026, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan jalan tol. Perbaikan jalan arteri harus menjadi prioritas agar pemudik memiliki alternatif yang aman dan nyaman.
Survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan (2026) memprediksi pergerakan masyarakat mencapai 143,9 juta orang, sedikit menurun dari 2025 yang sebesar 146 juta orang. Mayoritas pemudik melakukan perjalanan untuk merayakan Idulfitri di kampung halaman (66,2 persen), disusul kunjungan ke orang tua dan kerabat (19,3 persen).
Mobil pribadi menjadi moda utama dengan 76,24 juta pengguna (52,98 persen). Dari jumlah itu, 66,40 persen memilih jalan tol, akibatnya, ruas-ruas utama seperti Tol Jakarta–Cikampek, Jakarta–Cikampek II Elevated (MBZ), dan Tol Dalam Kota Jakarta diprediksi mengalami kepadatan tinggi.
Sejak 2019, Tol Trans-Jawa menjadi favorit karena dianggap tercepat. Tahun ini, tambahan 120,76 km jalan tol fungsional disiapkan, termasuk Jakarta–Cikampek II Selatan dan Probolinggo–Banyuwangi.
Namun, penambahan tol bukan solusi tunggal. Lonjakan ekstrem saat Lebaran kerap melampaui kapasitas jalan dan rest area.
Kemacetan sulit dihindari, sehingga fokus utama adalah pengendalian lalu lintas dan keselamatan. Jalan arteri seperti Pantura dan Pansel dapat menjadi alternatif, meski masih menghadapi kendala seperti pasar tumpah, minim penerangan, dan kepadatan sepeda motor.
Rest area juga perlu dibenahi. Penambahan toilet, khususnya untuk perempuan, pembangunan rest area darurat, serta penyediaan tempat istirahat di luar tol dekat gerbang keluar menjadi langkah penting. Integrasi informasi fasilitas tersebut ke aplikasi perjalanan akan membantu pemudik merencanakan perjalanan lebih baik.
Selain itu, meningkatnya penggunaan mobil listrik menuntut penyediaan SPKLU di titik strategis. Pengelolaan parkir rest area perlu diperketat dengan pembatasan waktu istirahat saat kondisi padat.
Rekayasa lalu lintas seperti one way dan contraflow tetap diperlukan, namun harus dikaji dampaknya terhadap angkutan umum, terutama bus antarkota. Evaluasi menyeluruh dan sosialisasi masif penting dilakukan untuk mencegah kecelakaan, termasuk dengan pembatas jalan lebih rapat, kehadiran safety car, serta kesiapan derek dan pemadam kebakaran.
Pada akhirnya, mudik Lebaran bukan hanya soal memperbanyak jalan tol, tetapi memastikan seluruh jaringan —baik tol maupun arteri— siap menampung lonjakan kendaraan. Keselamatan pemudik harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan pengaturan lalu lintas.
Sudut pandang ditulis oleh:
Djoko Setijowarno
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata
Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat