BMKG Ungkap 12 Fakta Gempa Magnitudo 5,9-6,5 Bawean
- 25 Mar 2024 14:23 WIB
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap 12 fakta gempa Bumi Magnitudo 5,9 dan Magnitudo 6,5. Gempa terjadi di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Jumat (22/3/2024).
"Fakta pertama dari gempa Bawean adalah jenis gempa kerak dangkal. Gempa kerak dangkal itu dipicu oleh aktivitas sesar aktif dengan mekanisme geser, atau mendatar di Laut Jawa," kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono dalam keterangan tertulis, Minggu (24/3/2024).
Fakta kedua, kata dia, gempa Bumi di Bawean bersifat merusak atau destruktif. "Sehingga, menimbulkan dampak kerusakan bangunan tidak hanya di Pulau Bawean," ujar Daryono.
"Tetapi, juga di Gresik, Tuban, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan, Bojonegoro, Pamekasan Madura, dan Banjarbaru." Fakta ketiga adalah gempa Bawean terjadi dengan guncangan berspektrum luas.
"Sehingga, dampak guncangan dirasakan hingga jauh dari pulau tersebut. Seperti Banjarmasin, Banjarbaru, Sampit, Balikpapan, Madiun, Demak, Semarang, Temanggung, Solo, Yogyakarta, Kulon Progo, dan Kebumen," kata dia.
Fakta keempat adalah gempa tidak berpotensi tsunami, berdasarkan hasil pemodelan tsunami BMKG. Data lapangan hasil monitoring muka laut menggunakan Tide Gauge milik Badan Informasi Geospasial (BIG) di Karimunjawa, Lamongan, dan Tuban.
"Menunjukkan muka laut yang normal. Tanpa ada anomali catatan tsunami," kata Daryono.
Fakta kelima adalah gempa Bawean berpusat di zona aktivitas kegempaan rendah. "Sehingga, masyarakat awam menilai gempa Bawean sebagai "gempa tidak lazim"," kata dia.
"Karena terjadi di wilayah yang jarang terjadi gempa dangkal." Dia menerangkan, selama ini Laut Jawa lazimnya menjadi episenter gempa gempa hiposenter.
"Dalam akibat deformasi slab Lempeng Indo-Australia yang tersubduksi di bawah Lempeng Eurasia. Tepatnya, di bawah Laut Jawa dengan kedalaman sekitar 500–600 Kilometer," ujar dia.
Fakta keenam, gempa Bawean berpusat di Zona Sesar Tua Pola Meratus. Gempa Bawean membuktikan, jalur sesar di Laut Jawa masih aktif.
"Sekaligus, menjadi pengingat bagi masyarakat untuk selalu waspada. Terhadap keberadaan sesar aktif dasar laut yang jalurnya dekat Pulau Bawean," ucap dia.
Sebab, kata dia, gempa dapat berulang dan terjadi kapan saja. "Meskipun, termasuk dalam Zona Kegempaan Rendah, Laut Jawa utara Jawa Timur tetap memiliki potensi gempa," kata dia.
"Karena secara geologi dan tektonik terdapat jalur Sesar Tua Pola Meratus." Fakta ketujuh, gempa Bawean dipicu reaktivasi sesar tua.
Episenter Gempa Bawean terletak tepat pada jalur sesar sudah terpetakan, yaitu Jalur Sesar Muria (Laut).
"Jalur sesar itu berada di zona Sesar Tua Pola Meratus. Salah satu jalur sesar di zona Pola Meratus ini diduga mengalami reaktivasi dan memicu gempa," katanya.
Fakta kedelapan adalah gempa Bawean memiliki gempa susulan dengan magnitudo lebih besar, yaitu sebesar M 6,5. "Hal itu bisa terjadi karena asperity atau bidang bakal geser di bidang sesar ukurannya lebih besar mengalami pecah belakangan," ucap Daryono.
Salah satunya karena dipicu tekanan dari gempa pertama, dengan aspertity yang ukurannya relatif lebih kecil. Bidang sesar yang pecah pertama kali adalah asperity pada struktur batuan yang lebih lemah.
"Sehingga, mengalami pecah duluan sebagai gempa pembuka," kata Daryono. Fakta kesembilan adalah gempa susulan cukup banyak di Bawean.
"Karena karakteristik gempa kerak dangkal di Bawean terjadi pada batuan kerak bumi permukaan yang batuannya bersifat heterogen," kata Daryono.
"Dengan demikian, kerak bumi itu mudah rapuh dan patah. Tidak seperti gempa kerak samudera yang batuannya bersifat homogen dan elastik," kata dia.
"Sehingga, tidak terlalu banyak gempa susulan, bahkan terkadang tanpa gempa susulan. Meskipun, magnitudo gempanya cukup besar."
Fakta kesepuluh adalah frekuensi gempa Bawean mulai menurun. Hasil monitoring BMKG hingga Minggu pukul 10.00 WIB mencatat sebanyak 239 kali gempa, dengan frekuensi kejadian yang semakin jarang.
"Jika pada Jumat (22/3/2024), dalam satu jam dapat terjadi 19 kali gempa. Data terkini menunjukkan dalam satu jam terjadi 2–3 kali gempa," kata dia.
Fakta kesebelas adalah gempa Bawean menambah catatan gempa kuat di Laut Jawa. Sebelumnya, hanya terjadi empat kali gempa kuat di Laut Jawa.
"Yaitu pada 1902, 1939, 1950, dan terkini pada 2024," kata dia. Fakta ke-12, gempa Bawean memberi pelajaran penting tentang ancaman gempa merusak di Jawa Timur tidak hanya berasal dari selatan.
"Yaitu, sumber gempa subduksi lempeng dan sesar-sesar aktif di daratan. Tetapi juga dari sumber sumber gempa di Laut Jawa, di utara Jawa Timur," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....