Sepatu Bukan Penentu Kaki Datar Anak
- 31 Jan 2026 15:22 WIB
- Ambon
RRI.CO.ID, Ambon - Kekhawatiran orangtua terhadap bentuk kaki anak kerap muncul sejak usia dini, terutama soal kondisi telapak kaki datar atau flat foot. Banyak orangtua meyakini bahwa pemilihan sepatu tertentu dapat membantu membentuk lengkungan kaki anak. Anggapan tersebut beredar luas dan sering dijadikan dasar dalam memilih alas kaki anak. Namun, pandangan itu ditegaskan sebagai mitos oleh dokter spesialis ortopedi anak.
Dokter spesialis ortopedi subspesialis ortopedi anak lulusan Universitas Indonesia, dr. Mohammad Aulia Herdiyana, Sp.OT, Subsp. A.(K), menegaskan bahwa sepatu tidak menentukan apakah kaki anak menjadi datar atau tidak. Menurutnya, selama anak merasa nyaman, tidak ada aturan khusus dalam memilih sepatu. “Sering orang tua tanya, perlu pakai sepatu seperti apa kalau kakinya datar. Sejujurnya, prinsip saya asalkan anak nyaman. Inilah banyak mitos seputar flat foot (kaki datar),” kata dr. Aulia, dikutip dari ANTARA, Kamis (29/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa telapak kaki datar pada bayi merupakan kondisi yang normal. Berdasarkan berbagai penelitian, sebagian besar bayi lahir dengan telapak kaki datar karena struktur kaki yang masih sangat fleksibel. Selain itu, lapisan lemak di bawah telapak kaki bayi masih tebal sehingga lengkungan kaki belum tampak. Kondisi ini umumnya akan berubah seiring pertumbuhan anak.
Dr. Aulia menyebutkan bahwa pada kebanyakan anak, lengkungan kaki mulai terbentuk secara alami pada usia sekitar 2 hingga 4 tahun. Proses tersebut terjadi tanpa perlu intervensi khusus, termasuk penggunaan sepatu tertentu. Oleh karena itu, orangtua tidak perlu terburu-buru mengambil tindakan medis. Pemantauan tumbuh kembang anak dinilai sudah cukup pada fase ini.
Meski demikian, ia mengakui bahwa pada sebagian orang, kaki datar dapat bertahan hingga dewasa. Kondisi tersebut umumnya dipengaruhi oleh faktor keturunan. “Kalau dia punya faktor keturunan, memang kemungkinan besar akan persisten sampai dewasa. Kalau dianalogikan flat foot itu seperti kita punya hidung dan mancung karena faktor keturunan yang kuat,” ujarnya. Namun, kaki datar yang menetap tidak selalu menimbulkan masalah kesehatan.
Penanganan medis baru diperlukan apabila flat foot disertai keluhan tertentu. Anak yang mengalami nyeri saat berjalan, cepat lelah, atau gangguan pola jalan perlu mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Dalam kondisi tertentu, penggunaan insole atau tindakan korektif dapat dipertimbangkan. Meski begitu, dr. Aulia menegaskan bahwa kasus yang membutuhkan operasi tergolong jarang.
Terkait pemilihan alas kaki, dr. Aulia menekankan bahwa kenyamanan jauh lebih penting dibandingkan klaim sepatu “khusus flat foot”. Orangtua disarankan memilih sepatu yang sesuai ukuran, fleksibel, dan tidak membuat anak kesakitan saat bergerak. Ia mengingatkan agar orangtua tidak mudah percaya pada mitos yang belum terbukti secara medis. Dengan pemahaman yang tepat, orangtua diharapkan tidak lagi cemas berlebihan menghadapi kondisi kaki datar pada anak.