Fakta Unik Kenapa Buah Simalakama Jadi Peribahasa

  • 31 Des 2025 21:42 WIB
  •  Manado

KBRN, Manado: Buah simalakama adalah peribahasa dalam bahasa Indonesia yang menggambarkan situasi serba salah. Peribahasa populer "Bagai makan buah simalakama, dimakan salah, tidak dimakan pun salah". Artinya: apapun pilihan yang diambil, tetap ada risiko atau akibat buruk.

Ungkapan ini bermakna bahwa seseorang berada dalam situasi sulit, di mana setiap pilihan yang diambil sama-sama membawa konsekuensi buruk. Karena itu, peribahasa ini kerap digunakan untuk mengekspresikan dilema dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam urusan pribadi, sosial, maupun pekerjaan.

Mengutip Gramedia, secara harfiah, buah simalakama digambarkan sebagai sesuatu yang "dimakan salah, tidak dimakan pun salah". Makna ini menekankan bahwa tidak ada pilihan yang benar-benar aman atau menguntungkan. Apapun keputusan yang diambil, tetap ada risiko, kerugian, atau perasaan tidak nyaman yang harus diterima. Inilah sebabnya peribahasa ini sangat relevan dengan kondisi manusia yang sering dihadapkan pada pilihan sulit.

Buah simalakama adalah nama lain dari buah Mahkota Dewa, yang memiliki nama ilmiah Phaleria macrocarpa. Buah ini berasal dari Indonesia, terutama dari daerah Papua dan Maluku. Secara fisik, buah ini terlihat menarik, namun buah ini menyimpan rahasia yang membuatnya jadi inspirasi peribahasa. Di mana buah ini punya dua sisi: bermanfaat tapi juga berbahaya. Harus benar-benar tahu mengolahnya jika ingin mendapatkan manfaatnya, dan jika dikonsumsi sembarangan akan menyebabkan keracunan.

Dalam kehidupan sehari-hari, buah simalakama sering muncul dalam situasi moral dan tanggung jawab. Misalnya, seseorang yang harus memilih antara berkata jujur namun menyakiti perasaan orang lain, atau berbohong demi menjaga perasaan tetapi melanggar nilai kejujuran. Kedua pilihan tersebut sama-sama tidak ideal, sehingga orang tersebut merasa terjebak dalam keadaan serba salah.

Peribahasa ini juga banyak digunakan dalam konteks kepemimpinan dan pengambilan keputusan besar. Seorang pemimpin terkadang harus memilih kebijakan yang tidak populer demi kebaikan jangka panjang, atau menunda keputusan penting demi menjaga stabilitas sementara. Dalam kondisi seperti ini, buah simalakama menjadi gambaran tepat atas tekanan dan risiko yang melekat pada setiap pilihan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....