Menara Willem Toren III, Saksi Bisu Kolonial Belanda

  • 01 Okt 2025 01:55 WIB
  •  Banda Aceh

KBRN, Banda Aceh : Di ujung barat Nusantara, tepatnya di Pulau Aceh, berdiri sebuah monumen sejarah yang menjadi saksi bisu era kolonial Belanda. Mercusuar Willem Toren III, namanya, masih tegak berdiri sejak lebih dari satu abad silam.

Terletak di Kampung Meulingge, Pulo Breuh, Kecamatan Pulau Aceh, Kabupaten Aceh Besar, mercusuar ini berdiri megah di atas bukit, menghadap langsung ke Samudra Hindia yang luas. Dari ketinggiannya, pengunjung dapat menyaksikan hamparan laut biru dan gugusan pulau-pulau yang menawan.

Mercusuar ini dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1875 untuk memandu kapal-kapal yang melintas di Selat Malaka. Sebagai jalur pelayaran tersibuk di dunia, Selat Malaka sangat membutuhkan penunjang navigasi yang andal dan kokoh.

Dikutip dari laman resmi Dinas Perhubungan Aceh, menara ini dinamai berdasarkan Raja Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk. Beliau adalah penguasa Luksemburg yang memerintah antara tahun 1817 hingga 1890.

Dengan tinggi mencapai 85 meter dan ketebalan dinding sekitar 1 meter, arsitektur silindris mercusuar ini mencerminkan gaya bangunan Belanda yang khas. Menara ini dibangun tidak hanya kuat secara fisik, tapi juga sarat nilai sejarah.

Untuk mencapai puncak menara, pengunjung harus menaiki 168 anak tangga. Menariknya, Willem Toren III ini hanya ada tiga di dunia—selain di Pulo Aceh, dua lainnya terletak di Belanda dan Kepulauan Karibia.

Hingga hari ini, mercusuar masih berfungsi aktif sebagai penunjang navigasi pelayaran di Samudra Hindia. Pengelolaannya kini berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut – Distrik Navigasi Kelas II Sabang.

Tak hanya sebagai penanda laut, menara ini juga menjadi daya tarik wisata sejarah di Pulau Aceh. Keindahan panorama laut yang ditawarkan dari puncaknya menjadikan tempat ini primadona bagi para pencinta sejarah dan alam.

Willem Toren III bukan sekadar bangunan tua, melainkan simbol perjalanan waktu dan penjaga setia lautan. Keberadaannya memperkaya kekayaan budaya dan maritim Indonesia di titik paling barat negeri ini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....