Benarkah Air Liur Bisa Mempercepat Penyembuhan Luka?

  • 28 Sep 2025 12:10 WIB
  •  Gorontalo

KBRN, Gorontalo : Baru-baru ini, beredar klaim bahwa air liur manusia mengandung zat penyembuh luka yang dapat menyembuhkan luka lebih cepat dibandingkan antiseptik. Klaim ini menjadi viral di media sosial, menyebut bahwa tindakan menjilat luka sebagai “antiseptik alami” adalah praktik yang ilmiah. Namun, benarkah klaim tersebut memiliki dasar ilmiah?

Menurut studi laboratorium, air liur manusia memang menunjukkan kemampuan untuk merangsang penutupan luka kulit dan mukosa oral dalam model rekonstruksi jaringan. Penelitian “Human saliva stimulates skin and oral wound healing in vitro” melaporkan bahwa air liur dapat merangsang proliferasi sel, migrasi sel, serta respons inflamasi moderat tanpa mengganggu diferensiasi kulit.

Komponen dalam air liur yang diduga berperan dalam penyembuhan luka meliputi histatin (peptida antimikroba yang juga memicu penutupan luka), faktor pertumbuhan seperti epidermal growth factor (EGF), serta inhibitor protease seperti SLPI (secretory leucocyte protease inhibitor). Selain itu, air liur juga menciptakan lingkungan lembap yang mendukung sel imun dan memperlambat jaringan yang rusak semakin meluas.

Di sisi lain, air liur juga memiliki sifat antimikroba melalui enzim seperti lisozim, peptida antimikroba, laktotransferrin, dan produksi nitrit yang diubah menjadi oksida nitrat/oksida nitratik dalam kondisi luka, yang bisa menghambat pertumbuhan bakteri. Studi tinjauan “The power of saliva: Antimicrobial and beyond” menjelaskan bahwa saliva memang memiliki banyak unsur pertahanan terhadap mikroba.

Namun demikian, ada batasan penting dalam penerapan klaim tersebut ke luka di kehidupan nyata. Dalam artikel pemeriksaan fakta (fact check) oleh Snopes disebutkan bahwa walau ada protein seperti histatin dalam air liur yang dapat mempercepat penyembuhan, air liur juga mengandung berbagai jenis bakteri yang hidup secara normal di mulut dan bisa menyebabkan infeksi jika masuk ke luka terbuka. Demikian pula, sumber medis dari NEBH menyebut bahwa praktik menjilat luka bisa berisiko infeksi bakteri mulut yang aman di dalam mulut bisa menjadi patogen ketika memasuki luka terbuka.

Sebuah penelitian pada hewan membandingkan aplikasi topikal air liur dengan gel lidah buaya untuk luka bakar derajat dua menunjukkan bahwa air liur dapat mempercepat proses re-epitelisasi dibanding kontrol atau gel lidah buaya pada tikus. Namun, penelitian tersebut bersifat eksperimental dan belum cukup untuk dijadikan dasar pengobatan manusia secara klinis.

Para ahli menyimpulkan bahwa meskipun ada potensi biologis dalam komponen air liur yang mendukung penyembuhan luka, penggunaan air liur secara langsung sebagai “antiseptik pengganti” tidak direkomendasikan. Antiseptik komersial (seperti povidone-iodine, chlorhexidine) tetap memiliki standar keamanan dan efektivitas yang diuji klinis. Kelebihan air liur dalam penelitian laboratorium belum diperkuat dengan bukti klinis manusia yang memadai.

Dengan demikian, klaim bahwa air liur bisa menyembuhkan luka lebih cepat dibanding antiseptik berlebihan. Ada elemen kebenaran biologis terkait kandungan zat penyembuh dalam air liur, tetapi faktor risiko infeksi dan kurangnya bukti klinis menjadikan klaim tersebut belum dapat dijadikan panduan pengobatan. Sumber ilmiah dari studi in vitro dan tinjauan ilmiah memberikan dasar, tetapi belum sampai pada rekomendasi praktik umum.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....