Menelisik Dampak Menyangkal Diri terhadap Kesehatan Mental
- 09 Jul 2025 09:04 WIB
- Manado
KBRN Manado : Menyangkal diri secara psikologis adalah kecenderungan untuk menolak atau menekan emosi, kebutuhan, atau keinginan pribadi karena merasa tidak layak, takut penolakan, atau demi memenuhi ekspektasi sosial. Meski terlihat seperti sikap mengalah, perilaku ini dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan mental seseorang.
Dalam jurnal Emotion oleh Gross dan John (2003), dijelaskan bahwa menekan ekspresi emosi secara terus-menerus adalah sebuah bentuk menyangkal diri emosional yang berkorelasi dengan meningkatnya stres fisiologis dan menurunnya fungsi sosial. Individu yang terbiasa menekan perasaan demi terlihat tenang atau menyenangkan justru mengalami penurunan kesejahteraan emosional secara keseluruhan.
Sementara itu, dalam studi oleh Shallcross et al. (2010) di Journal of Psychopathology and Behavioral Assessment, ditemukan bahwa perilaku penyangkalan diri yang kronis dapat mengganggu kemampuan regulasi emosi dan meningkatkan risiko gejala depresi, terutama pada mereka yang memiliki riwayat trauma atau pengasuhan tidak responsif.
Dalam ranah sosial, menyangkal diri kerap didorong oleh norma budaya. Studi dari Triandis (2001) dalam Journal of Personality and Social Psychology menjelaskan bahwa dalam budaya kolektivistik seperti Indonesia, individu cenderung mengutamakan keharmonisan sosial meski harus mengorbankan perasaan pribadi. Hal ini memperkuat pola penyangkalan diri demi menjaga citra sosial.
Sayangnya, kebiasaan ini berdampak pada kemampuan menetapkan batasan dalam relasi interpersonal. Studi terbaru oleh Lynch et al. (2022) dalam Frontiers in Psychology menunjukkan bahwa individu yang tidak mengenali dan menghargai kebutuhannya sendiri cenderung mengalami kelelahan emosional, rendah diri, dan konflik relasional.
Penting bagi individu untuk mengenali bahwa perasaan dan kebutuhan pribadi adalah valid. Mengembangkan kesadaran diri (self-awareness) dan keberanian menetapkan batasan adalah langkah awal menuju kesehatan psikologis yang lebih stabil.
(Apri Sri Devi Simatupang/LPU)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....