Mengenal Proses Mimpi Menurut Ilmu Psikologi

  • 27 Jun 2025 18:39 WIB
  •  Nunukan

KBRN, Nunukan: Mimpi bukan sekadar bunga tidur. Menurut teori psikolog ternama Sigmund Freud, mimpi merupakan manifestasi dari keinginan terdalam yang belum terwujud. Prosesnya terjadi secara alami di alam bawah sadar, ketika tubuh beristirahat namun otak tetap aktif menjalankan fungsinya.

Secara ilmiah, mimpi melibatkan bagian-bagian penting dalam otak. Saat seseorang tertidur, otak akan menonaktifkan sebagian fungsi indera dan otot, namun aktivitas otak tidak berhenti. Justru dalam kondisi ini, otak tetap bekerja di balik layar, terutama pada bagian hippocampus yang berkaitan dengan memori, emosi, dan kenangan.

Peneliti menyebutkan bahwa mimpi paling sering terjadi pada tahap tidur REM (Rapid Eye Movement), yakni fase tidur terdalam yakni gerakan mata menjadi cepat dan aktivitas otak meningkat. Namun, mimpi juga bisa terjadi pada fase tidur ringan, meski umumnya tidak mudah diingat.

Tidur manusia terbagi menjadi empat tahap, yakni N1 (tidur ringan), N2 (tidur sedang), N3 (tidur dalam), dan REM. Ketika seseorang masuk ke fase REM, hippocampus akan mulai ‘memutar ulang’ kenangan lama maupun baru secara acak, kemudian muncul sebagai mimpi.

Freud meyakini bahwa mimpi tidak muncul begitu saja. Ia menegaskan bahwa mimpi menyimpan pesan tersembunyi yang berasal dari alam bawah sadar. Artinya, mimpi bisa mencerminkan keinginan, konflik batin, atau emosi yang belum disadari oleh pikiran sadar.

Temuan neurosains modern semakin mendukung pandangan Freud. Studi pemindaian otak menunjukkan bahwa area limbik otak, termasuk hippocampus dan amigdala, sangat aktif saat bermimpi, terutama ketika emosi mendalam terlibat dalam pengalaman tersebut. (Sumber: Gramedia)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....