Hooded Pitohui, Burung Pembawa Racun yang Lebih Mematikan dari Sianida
- 14 Mei 2025 19:58 WIB
- Biak
KBRN, Biak: Dilansir dari laman National Geographic, di musim panas 1989, seorang ahli burung Jack Dumbacher sedang dalam pelatihan di ekspedisi perdananya ke hutan hujan yang rimbun di Papua Nugini.
Pada suatu sore, ia melihat seekor burung aneh dengan bulu hitam-oranye terjerat dalam jaring kabutnya. Saat Dumbacher mencoba melepaskannya, hooded pitohui mencakarnya. Dumbacher kemudian menempelkan luka itu ke bibirnya untuk menghentikan pendarahan. Namun mulutnya mulai terasa geli dan terbakar, lalu mati rasa, yang berlangsung hingga malam.
Jack Dumbacher kemudian berkonsultasi dengan pemandu lokal dan diberitahu bahwa burung itu sangat dihindari oleh penduduk desa setempat. Penasaran dengan hal itu, Dumbacher menghabiskan tahun berikutnya mengumpulkan sampel hooded pitohui dan mencari ahli kimia untuk meneliti racun burung tersebut. Pada 1992, John Dumbacher dan rekan-rekannya mengumumkan temuan mereka tentang burung hooded pitohui yang diketahui membawa racun batrachotoxin. Racun tersebut diyakini melindungi burung dari predator dan parasit. Namun, puluhan tahun setelah penemuan tersebut, masih banyak misteri tentang burung beracun di New Guinea.
Hooded Pitohui (Pitohui dichrous) adalah salah satu dari beberapa burung beracun yang telah didokumentasikan di Papua Nugini. Hooded Pitohui memiliki ciri khas dengan bulu hitam-oranye mencolok, dengan cakar dan paruh yang tajam. Nama hooded (bertudung) didapat dari pola bulu hitam pada kepalanya yang menyerupai kerudung. Burung Hooded Pitohui diketahui membawa batrachotoxin, racun yang disebut lebih mematikan daripada sianida. Demikian mengutip berbagai sumber.
Untuk itu, tim ilmuwan lain melanjutkan penelitian Dumbacher. Mereka adalah ahli ekologi Museum Sejarah Alam Swedia, Knud Jønsson dan ahli biologi evolusi Universitas Kopenhagen, Kasun Bodawatta. Mereka Kemudian mengidentifikasi dua spesies burung beracun baru pada tahun 2023, dan berencana untuk mengunjungi Papua Nugini setiap tahun sampai 2028.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....