Kisah Perjalanan Irfan Nugraha hingga Menjadi Ketua STKIP Hunimua
- 03 Feb 2026 10:12 WIB
- Bula
RRI.CO.ID, Bula– Ketua STKIP Hunimua Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, Irfan Nugraha, membagikan kisah perjalanan hidup dan pendidikannya yang penuh makna hingga akhirnya mengabdi di tanah kelahiran orang tuanya di Pulau Seram.
Irfan mengaku lahir dan dibesarkan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sejak kecil, perjalanan pendidikannya berjalan seperti anak-anak pada umumnya. Namun, di balik itu, tersimpan satu mimpi besar yang baru terwujud setelah 24 tahun.
“Saya lahir dan besar di Cianjur. Bapak saya orang Seram, asli Seram, hanya bertugas di Jawa Barat. Waktu SMP kelas 2, saya masih di Cianjur, saya melihat berita gempa bumi dan banjir besar di Morotai,” kata Irfan saat berbincang bersama Pro1 RRI Bula, Senin, 3 Februari 2026.
Peristiwa itu, menurut Irfan, menjadi titik awal tumbuhnya rasa penasaran terhadap kampung halaman sang ayah. Saat itu, Ia bertanya apakah kampung ayahnya dekat dengan Morotai. Dari cerita sang ayah tentang Seram, tumbuh tekad kuat dalam dirinya untuk suatu hari menginjakkan kaki dan mengabdi di sana.
“Waktu itu saya bilang dalam hati, entah jadi apa nanti, saya harus ke sana. Saya tidak berpikir jadi dosen, ketua, atau pegawai. Pokoknya saya harus ke sana,” ujarnya.
Irfan percaya kekuatan kata-kata dan doa memiliki peran besar dalam hidupnya. Keinginan yang Ia ucapkan sejak remaja akhirnya terwujud dua dekade lebih kemudian.
“Sekarang keinginan itu terwujud. Saya bisa mengabdi dan memberikan kontribusi untuk anak-anak di Seram. Itu pencapaian pribadi yang luar biasa bagi saya,” ucapnya.
Kenangan melihat anak-anak di pengungsian Morotai yang tetap semangat belajar meski dalam keterbatasan juga menjadi pemicu kuat dalam perjalanan hidupnya. Ia menilai pendidikan adalah hak dasar yang harus mudah diakses oleh semua orang.
Irfan menempuh pendidikan dasar hingga SMA di Cianjur, melanjutkan S1 di Jakarta dan S2 di Bandung. Setelah menyelesaikan pendidikan magister, Ia merasa ilmu yang dimiliki harus diamalkan, bukan sekadar disimpan.
“Kalau ilmu tidak digunakan, itu jadi mubazir. Ketika melihat ada pendirian kampus di SBT, saya berpikir ilmu yang sedikit ini bisa diimplementasikan di sana,” jelasnya.
Sejak 2019, Irfan mulai mengajar di Program Studi Pendidikan Ekonomi STKIP Hunimua, sesuai dengan latar belakang keilmuannya di bidang manajemen. Saat ini, ia juga telah menerima letter of acceptance (LoA) untuk melanjutkan studi S3.
Ia menegaskan keberadaan perguruan tinggi di Bula sangat penting untuk menjawab tantangan geografis SBT, termasuk wilayah Pulau Gorom, Gorom Timur, Geser, Wakate hingga Kilmuri yang masih tergolong terisolasi.
“Pendidikan itu akses. Pendidikan itu wajib. Perguruan tinggi di Bula ini menjawab keresahan masyarakat dan anak-anak muda SBT yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi,” pungkasnya.