Pemkab SBT & MASSI Bahas Rencana Hilirisasi Sagu

  • 05 Nov 2025 15:16 WIB
  •  Bula

KBRN, Bula: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Seram Bagian Timur (SBT) melalui Dinas Pertanian bekerja sama dengan Masyarakat Sagu Indonesia (MASSI) menggelar Forum Group Discussion (FGD) membahas potensi produksi dan rencana hilirisasi sagu di wilayah tersebut.

Prof. Mochammad Bintoro selaku Ketua Masyarakat Sagu Indonesia hadir langsung untuk menyampaikan materi dalam FGD yang berlangsung di ruang rapat Kantor Bappeda & Litbang SBT, Rabu (5/11/2025).

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian SBT, Idris Rumalean, mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah awal dalam penyusunan rencana hilirisasi sagu yang akan dimasukkan ke dalam Program Strategis Nasional (PSN).

“Kegiatan hari ini merupakan diskusi awal untuk perencanaan PSN Hilarisasi Sagu ke depan,” ujar Idris kepada wartawan.

Ia menjelaskan, forum diskusi tidak hanya membahas potensi produksi sagu. Tetapi juga menyoroti aspek sosial dan budaya masyarakat setempat. Menurutnya, sebagian besar lahan sagu di SBT berada di wilayah hak ulayat yang dikelola berdasarkan dusun dan marga.

“Kita tidak bisa langsung mengambil hasil di lokasi-lokasi itu. Harus ada sosialisasi dan pembinaan kepada masyarakat, karena sagu ini tumbuh di lahan adat,” katanya menambahkan.

Idris menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan sagu harus melibatkan masyarakat adat sejak tahap perencanaan agar program tersebut berjalan baik dan tidak menimbulkan konflik sosial.

Selain itu, Ia mengingatkan pentingnya pelaksanaan proyek hilirisasi sagu secara hati-hati dan berkelanjutan.

“Kami tidak mau semena-mena dalam mengambil hasil di lapangan. Harus ada perencanaan, sosialisasi, dan pembinaan kepada masyarakat adat,” ujarnya.

Lebih lanjut Idris mengungkapkan hasil uji bersama lembaga dan dinas teknis, satu hektar lahan sagu di SBT mampu menghasilkan sekitar 15 ton pati basah, dengan rata-rata 35 pohon produktif per hektar. Setiap pohon sagu dapat menghasilkan 250 hingga 640 kilogram pati basah.

“Potensinya besar jika dikelola dengan baik,” ujar Idris. Ia menambahkan, kegiatan hilirisasi sagu tidak boleh hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga harus memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani dan masyarakat adat serta menjaga kelestarian sumber daya alam.

“Yang kami harapkan, pengembangan sagu ini bukan hanya untuk kepentingan industri, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat sebagai pemilik lahan,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....