Kekeringan Meluas di SBT, Warga Suru Tempuh 5 Km ke Desa Tetangga Ambil Air Bersih

  • 15 Sep 2026 13:38 WIB
  •  Bula

RRI.CO.ID, Bula - Kekeringan melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku. Kondisi ini menyebabkan warga kesulitan mendapatkan air bersih, termasuk masyarakat Desa Administratif Suru, Kecamatan Siritaun Widatimur.

Warga Desa Suru bahkan harus menempuh jarak sekitar 5 kilometer ke Desa Kwaos untuk mendapatkan air bersih. Air tersebut diangkut menggunakan mobil pikap untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Warga Desa Suru, Udin Marassabessy, mengatakan kondisi tersebut telah berlangsung sekitar tiga bulan sejak musim kemarau melanda. Sejumlah sumur warga kini mengering, sementara sebagian sumur lainnya menghasilkan air payau karena berada di wilayah pesisir.

"Musim kemarau berkepanjangan melanda Kabupaten Seram Bagian Timur. Sebagian masyarakat Negeri Administratif Suru rela mengambil air bersih di Negeri Kwaos. Jarak Suru ke Kwaos sekitar 5 kilometer. Kami mengambil air menggunakan mobil pikap dan ini bukan baru pertama kali, tapi sudah sering," kata Udin, Selasa, 15 September 2026.

Menurut Udin, sumber air yang berada di dalam Desa Suru saat ini hampir seluruhnya tidak dapat digunakan. Sumur-sumur warga yang sebelumnya menjadi sumber air bersih telah mengering.

"Sumur yang ada rata-rata airnya payau karena berada di pinggir pantai. Kalau di kompleks tertentu yang sumurnya air bagus, sekarang sudah kering semua," ujarnya.

Udin menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan masyarakat Desa Kwaos yang telah memberikan izin kepada warga Suru untuk mengambil air bersih di wilayah tersebut.

"Kami berterima kasih kepada Bapak Kepala Negeri Kwaos dan masyarakatnya yang sudah mengizinkan kami, warga Desa Administratif Suru, untuk mengambil air bersih," katanya.

Selain mengandalkan sumur, Desa Suru sebenarnya memiliki jaringan pipa yang mengalirkan air dari sumber di kawasan pegunungan menuju permukiman warga. Namun, jaringan pipa tersebut kini mengalami kebocoran dan kerusakan sehingga air tidak lagi mengalir ke desa.

Warga berharap jaringan tersebut segera diperbaiki oleh pemerintah agar dapat kembali digunakan, terutama saat musim kemarau.

Udin mengatakan pemerintah desa sebelumnya pernah melakukan pengadaan pipa untuk rehabilitasi jaringan yang rusak, namun menurut informasi yang diterima warga, jumlah pipa yang dibeli belum mencukupi kebutuhan karena jarak sumber air dari gunung menuju desa cukup jauh.

"Kalau tidak salah, pada 2024 pernah ada pengadaan pipa untuk rehabilitasi pipa yang rusak. Tapi informasi yang kami dapat, hanya dibelanjakan sekitar 20 batang pipa, padahal jarak sumber air dari gunung ke desa cukup jauh," ungkapnya.

Warga Suru berharap Pemerintah Kabupaten SBT maupun Pemerintah Provinsi Maluku turun tangan menangani krisis air bersih yang kini dirasakan masyarakat Suru.

Udin meminta pemerintah memberikan bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan warga selama musim kemarau sekaligus memperbaiki jaringan perpipaan yang rusak.

"Harapan kami masyarakat agar ada perhatian dan bantuan air bersih dari pemerintah daerah untuk membantu kami masyarakat di Desa Suru yang sekarang susah mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari," tuturnya.

"Kami juga meminta Pemerintah Kabupaten SBT dan Pemerintah Provinsi turun tangan memperbaiki jaringan pipa air di desa kami yang sekarang rusak agar air bisa kembali mengalir ke desa. Terutama di musim kemarau seperti sekarang ini, masyarakat sangat membutuhkan air," sambungnya.

Saat ini, warga Suru terpaksa terus mengambil air dari Desa Kwaos meski harus menempuh jarak sekitar 5 kilometer. Kondisi tersebut dilakukan karena tidak ada lagi sumber air di dalam desa yang dapat digunakan.

"Kalau sekarang, kami masyarakat kalaupun jauh, terpaksa mengambil air di Desa Kwaos karena sudah tidak ada sumber di dalam desa yang bisa digunakan. Semuanya sudah kering," pungkas Udin.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....