Kekeringan Belum Capai Puncak, BNPB: Dampaknya Bisa Meningkat September
- 16 Agt 2026 20:07 WIB
- Bula
RRI. CO. ID, Bula- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meninjau langsung dampak kemarau panjang dan El Nino yang memicu kekeringan dan krisis air bersih di hampir seluruh wilayah Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, Minggu, 16 Agustus 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan kondisi kekeringan belum mencapai puncaknya dan dampaknya berpotensi meningkat pada September.
Plt Direktur Penanganan Kedaruratan Wilayah II BNPB Riswandi mengatakan pihaknya telah melihat langsung kondisi kekeringan, kekurangan air bersih, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta abrasi di sejumlah wilayah SBT. “Kami sudah melihat dalam empat hari ini terkait dengan bencana kekeringan, kekurangan air bersih yang diderita oleh masyarakat,” kata Riswandi kepada wartawan di Kantor Bupati SBT, Minggu, 16 Agustus 2026).
Menurut Riswandi, kondisi tersebut terjadi di sebagian besar wilayah SBT. BNPB juga telah menerima proposal dari pemerintah daerah terkait kebutuhan penanganan bencana. “Kami sudah lihat dan terpampang dengan proposal yang diberikan oleh Pemerintah Seram Bagian Timur ini memang nyata dampaknya terkait dengan kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, dan abrasi ini,” ujarnya.
Juru Bicara Pemkab SBT Ahmad Mony mengatakan hampir seluruh kecamatan melaporkan mengalami kekeringan dan krisis air bersih. Wilayah Werinama dan Siwalalat disebut relatif lebih aman. Salah satu wilayah dengan kondisi cukup parah berada di Bula Barat. Kebakaran lahan yang terjadi sebelumnya bahkan berdampak terhadap aktivitas pertanian masyarakat.
“Bencana yang paling agak parah kalau kita lihat itu terjadi di Bula Barat. Kebakaran lahan kemarin bahkan berdampak ke aktivitas pertanian,” kata Ahmad.
Sejumlah lahan perkebunan warga yang ditanami pala, cengkeh, kelapa, serta persawahan ikut terbakar. Kekeringan juga membuat aktivitas masyarakat untuk memulai kegiatan pertanian terhambat.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari peringatan cuaca yang sebelumnya telah disampaikan BMKG. Pemkab SBT telah menyampaikan sejumlah kebutuhan kepada BNPB, termasuk tambahan armada pemadam kebakaran dan pembangunan sumur bor.
Ahmad mengatakan armada pemadam kebakaran yang dimiliki pemerintah daerah saat ini belum mampu menjangkau seluruh kecamatan, terutama wilayah kepulauan.
“Kita punya armada pemadam kebakaran yang ada tidak bisa meng-cover seluruh kecamatan yang ada, apalagi yang ada di kepulauan,” ujarnya.
Pemkab SBT juga mengusulkan pembangunan sumur bor di kecamatan yang memiliki potensi kekeringan dan kebakaran tinggi.
Selain penanganan darurat, pemerintah daerah menyiapkan langkah pemulihan bagi petani yang lahannya terdampak kebakaran dengan menyediakan bibit tanaman.
“Yang paling cepat kita akan lakukan adalah menyediakan bibit. Bibit pala, kelapa, bibit hortikultura sehingga masyarakat bisa mengakses bibit itu dan bisa memulai kegiatan pertaniannya kembali,” kata Ahmad.
Selain kekeringan dan karhutla, abrasi menjadi persoalan yang turut dilaporkan sejumlah wilayah pesisir SBT. Wilayah Gorom dan Gorom Timur menjadi salah satu daerah yang menyampaikan keluhan terkait abrasi. Bahkan, sejumlah bagian rumah warga dilaporkan rusak akibat terkikis air laut.
Usulan penanganan abrasi tersebut juga telah dicatat oleh tim BNPB untuk ditindaklanjuti. Riswandi mengatakan BNPB akan segera menyusun laporan dan analisis untuk disampaikan kepada Kepala BNPB. Setelah itu, usulan dari pemerintah daerah akan ditindaklanjuti sesuai hasil analisis.
“Kami akan segera laporkan dan analisis yang akan kami buat kepada Kepala BNPB dan segera akan kami tindak lanjuti terkait dengan bencana yang terjadi ini,” kata Riswandi.
Menurut dia, penanganan tidak hanya dilakukan dalam kondisi darurat. Pemerintah pusat dan daerah perlu menyiapkan langkah mitigasi jangka panjang untuk menghadapi kekeringan dan abrasi.
“Jangka panjangnya tentunya kami akan melihat apa yang bisa dikerjasamakan dengan seluruh stakeholder, bukan hanya BNPB saja, pemerintah pusat juga terkait dengan mitigasi dan pencegahan ke depannya,” ujarnya.
Riswandi juga meminta masyarakat bijak menggunakan air selama kondisi kekeringan. Warga diminta tidak membakar sampah sembarangan serta tidak membuang puntung rokok yang dapat memicu kebakaran.
Dia menegaskan kondisi kekeringan saat ini belum mencapai puncaknya.
Berdasarkan analisis BNPB, dampaknya diperkirakan masih dapat meningkat pada September. “Bencana yang saat ini menurut hasil analisa BNPB ini belum yang tertinggi puncaknya malah di bulan September,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....