Karhutla di Bula Makin Meresahkan, Warga Desak Pelaku Pembakaran Ditangkap

  • 11 Agt 2026 18:46 WIB
  •  Bula

RRI.CO.ID, Bula– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Kota Bula, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, membuat warga resah. Kebakaran yang terjadi berulang kali itu disebut telah menghanguskan ratusan hektare lahan dan tanaman produktif milik masyarakat.

Asap dari kebakaran juga mulai masuk ke kawasan permukiman sehingga mengganggu aktivitas dan kenyamanan warga. Warga pun mendesak aparat penegak hukum (APH) segera menyelidiki penyebab kebakaran serta menindak tegas pihak yang terbukti sengaja membakar hutan dan lahan.

Salah satu warga Kota Bula, Aby, mengatakan masyarakat saat ini mulai khawatir dengan kondisi kebakaran yang terjadi di sejumlah lokasi. Menurut dia, kebakaran yang terus berulang tidak hanya menimbulkan kerugian bagi masyarakat, tetapi juga berpotensi mengancam lingkungan dan kesehatan warga akibat asap yang ditimbulkan.

“Masyarakat Kabupaten SBT, terkhusus Kota Bula, saat ini resah dengan kebakaran lahan dan hutan di mana-mana. Ini akibat dari lemahnya pengawasan Pemda dan pihak terkait dalam menangani hal seperti ini,” ujar Aby, Selasa, 11 Agustus 2026.

Aby menilai pemerintah daerah dan pihak terkait perlu meningkatkan pengawasan di wilayah yang rawan terjadi kebakaran, terlebih saat musim kemarau. Ia juga mengusulkan agar pemerintah daerah membuat regulasi yang secara khusus mengatur larangan pembakaran hutan dan lahan serta memberikan sanksi bagi pelanggarnya.

“Saran beta biking perda terkait pembakaran lahan dan hutan, terus pihak penegak hukum harus bertindak tangkap pelaku pembakaran sesuai dengan UU perlindungan hutan,” katanya.

Sementara itu, Dinas Kehutanan Provinsi Maluku melalui UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten SBT menduga aktivitas manusia menjadi faktor utama penyebab karhutla di wilayah tersebut. Kepala UPTD KPH Kabupaten SBT, Musa Rumakat, mengatakan dugaan tersebut berdasarkan hasil pengawasan di sejumlah lokasi kebakaran.

Menurut Musa, sebagian besar titik api ditemukan di lokasi yang mudah diakses masyarakat maupun kendaraan.

Api kemudian merambat ke kawasan semak belukar yang kondisinya kering sehingga kebakaran cepat meluas.

“Kalau melihat kondisi di lapangan, faktor alam sangat kecil. Faktor manusia jauh lebih dominan karena banyak titik api muncul di lokasi yang dapat diakses masyarakat, lalu menyebar ke semak belukar yang mudah terbakar,” kata Musa kepada wartawan beberapa hari lalu.

Musa mengatakan kondisi tutupan lahan turut meningkatkan risiko kebakaran di Kecamatan Bula. Sekitar 38 persen wilayah Kecamatan Bula merupakan semak belukar yang mudah terbakar, terutama ketika cuaca panas dan vegetasi dalam kondisi kering.

Menurut dia, sumber api dari aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dan pembakaran sampah dapat dengan cepat memicu kobaran api. Api yang awalnya kecil dapat merambat ke area semak belukar dan meluas apabila tidak segera dikendalikan.

Karena itu, KPH SBT mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran di kawasan yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama pada siang hingga sore hari ketika suhu udara meningkat.

“Pencegahan menjadi langkah paling penting agar kebakaran tidak semakin meluas. Api yang masih kecil harus segera dikendalikan agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar,” ujar Musa.

Warga berharap pemerintah daerah, KPH, kepolisian, dan instansi terkait memperkuat pengawasan serta segera melakukan penelusuran apabila ditemukan indikasi pembakaran yang dilakukan secara sengaja.

Penindakan terhadap pihak yang terbukti melanggar aturan dinilai penting untuk mencegah karhutla kembali terjadi dan meluas di wilayah SBT.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....